Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Tekankan Pentingnya Alarm Moral dan Pendidikan Berbasis Kasih Sayang

Sleman — Maraknya kasus kekerasan dan kelalaian dalam pengasuhan anak akhir-akhir ini menjadi sorotan tajam dunia pendidikan. Guru Besar Bidang Evaluasi Pendidikan UIN Sunan Kalijaga, Suwadi, menegaskan bahwa fenomena ini harus menjadi refleksi mendalam bagi lingkungan pendidikan maupun keluarga agar kejadian serupa tidak terus terulang. Hal tersebut disampaikannya dalam pertemuan di Sasana Anglocita Tama, Kantor Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Jumat (8/5/2026).

Suwadi mengungkapkan bahwa persoalan pengasuhan anak saat ini bukan sekadar urusan hukum formal, melainkan indikasi adanya krisis akhlak dan pendidikan yang serius. Ia menekankan bahwa fondasi utama pendidikan anak harus diletakkan di atas nilai amanah, kasih sayang, dan tanggung jawab moral yang kuat. Menurutnya, lembaga pendidikan tidak boleh terjebak dalam aspek administratif semata, namun harus mengutamakan keselamatan dan perkembangan batin anak.

“Kasus pengasuhan anak yang terjadi saat ini harus menjadi alarm moral bagi umat. Pendidikan tidak boleh hanya bersifat administratif atau berorientasi bisnis semata, tetapi harus mengedepankan nilai rahmah dan amanah. Pengasuhan bukan sekadar menjaga anak agar diam, tetapi mendidik dengan kasih sayang dan keteladanan. Pendidikan tanpa rahmah hanya akan melahirkan generasi yang terluka secara psikologis,” ujar Suwadi di hadapan para peserta.

Lebih lanjut, ia menyoroti tantangan era digital dan revolusi industri 4.0 yang mengubah pola interaksi dalam keluarga. Ketergantungan pada teknologi dan cepatnya perubahan sosial sering kali mengikis kedekatan emosional antara orang tua dan anak. Oleh karena itu, penguatan pendidikan karakter menjadi kebutuhan mendesak agar generasi muda tetap memiliki kompas moral yang jelas di tengah derasnya arus informasi.

Dalam perspektif Islam, Suwadi menjelaskan bahwa setiap anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga lahir dan batinnya. Guru, pengasuh, maupun pengelola lembaga pendidikan memikul tanggung jawab moral yang besar untuk memastikan lingkungan belajar tetap aman dan memanusiakan manusia. Ia mendorong adanya penguatan sistem pendidikan yang memprioritaskan pembinaan akhlak bagi para pengasuh serta pendampingan intensif bagi keluarga muda dalam hal pola asuh.

Ia juga mengajak organisasi keagamaan seperti MUI untuk lebih proaktif dalam melakukan edukasi parenting Islami. Menurutnya, peran tokoh agama sangat strategis untuk melakukan tindakan preventif sebelum terjadi masalah sosial. Sinergi antara keluarga, masyarakat, dan lembaga pendidikan menjadi kunci utama dalam menciptakan ruang tumbuh kembang yang sehat bagi anak-anak.

“Akhlak jauh lebih penting daripada sekadar fasilitas gedung yang mewah. Pendidikan harus melahirkan generasi yang kuat secara moral, spiritual, dan sosial agar mereka siap menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri. Mari kita bangun budaya kasih sayang dalam lingkungan pendidikan kita untuk menjamin masa depan mereka,” pungkas Suwadi menutup pemaparannya. (Athiful/KIM Depok)

image_pdfimage_print
Bagikan: