47 Penulis Ikuti Lomba Penulisan Naskah Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional

Sleman – Dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman, Komite Permainan dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Kabupaten Sleman menggelar Lomba Penulisan Naskah Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional. Kegiatan ini menjadi upaya pelestarian sekaligus pengembangan warisan budaya tak benda di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Narahubung panitia lomba, Wijang Wahyu Wiwoho, menjelaskan bahwa lomba tersebut bertujuan menghidupkan kembali permainan rakyat dan olahraga tradisional yang mulai jarang dikenal generasi muda.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin membuka kembali ingatan masyarakat untuk menuliskan permainan rakyat dan olahraga tradisional yang mungkin sudah lama terpendam,” ujarnya, Selasa (19/5/2026).

Wijang menyebutkan, selama masa pengumpulan naskah pada 1–13 Mei 2026, panitia menerima 47 naskah dari peserta seluruh DIY. Sebagian besar peserta berasal dari Kabupaten Sleman dengan persentase 57,1 persen, disusul Kota Yogyakarta 28,7 persen, serta Bantul dan Kulon Progo masing-masing 7,1 persen.

Menurutnya, lomba ini bertujuan menjaga, mendokumentasikan, dan menghidupkan kembali permainan rakyat agar tetap relevan bagi generasi saat ini. Selain itu, kegiatan tersebut juga diharapkan dapat menumbuhkan nilai budaya dan memperkuat identitas lokal.

Wijang mengungkapkan bahwa permainan rakyat dan olahraga tradisional kini mulai tergerus perkembangan gim digital. Banyak permainan tradisional yang diwariskan secara lisan sehingga aturan permainannya sering berbeda-beda. Karena itu, lomba ini diharapkan mampu menghasilkan naskah baku yang dapat menjadi rujukan bagi sekolah, sanggar, maupun masyarakat.

“Permainan tradisional mengandung nilai pendidikan karakter seperti gotong royong, sportivitas, kejujuran, disiplin, dan kerja sama,” jelasnya.

Selain sebagai media edukasi, naskah yang dihasilkan juga diharapkan dapat dimanfaatkan dalam festival budaya, kegiatan wisata desa, hingga menjadi modul muatan lokal di sekolah dasar dan menengah.

“Harapannya, anak-anak Sleman dapat mengenal, memainkan, dan bangga terhadap permainan tradisional daerahnya sendiri,” pungkas Wijang. (Giek/KIM Moyudan)

image_pdfimage_print
Bagikan: