Sleman — Penguatan ketahanan kesehatan nasional dinilai tidak dapat lagi bertumpu sepenuhnya pada ketersediaan fasilitas medis formal, melainkan harus dimulai dari kemandirian unit terkecil, yakni keluarga. Guna mewujudkan pilar tersebut, mahasiswa Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar diseminasi program intervensi kesehatan bertajuk Community and Family Health Care–Interprofessional Education (CFHC-IPE) yang kini sukses memasuki pelaksanaan tahun kedua.
Agenda pemaparan hasil pendampingan yang mengusung tema spesifik “Family Health and Emergency” tersebut dipusatkan di Joglo Kadisono, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (30/5/2026). Forum strategis ini mempertemukan dosen pembimbing lapangan, jajaran birokrasi kalurahan, puluhan kader kesehatan, serta perwakilan masyarakat untuk membedah peta temuan klinis dan rekomendasi tindak lanjut penanganan risiko penyakit di tingkat domestik.
Program CFHC-IPE merupakan model inovasi pembelajaran berbasis komunitas jangka panjang yang mengintegrasikan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, seperti kedokteran, keperawatan, dan gizi kesehatan. Melalui skema kolaboratif ini, para calon tenaga kesehatan dilatih keluar dari zona teori ruang kuliah untuk bersentuhan langsung dengan dinamika sosiologis, psikologis, dan faktor lingkungan yang memengaruhi status kesehatan sebuah keluarga.
Mewakili Pemerintah Kalurahan Margorejo, Kamituwa Margorejo Anwar Insani, mengapresiasi tinggi konsistensi para mahasiswa UGM yang berkomitmen melakukan pendampingan secara kontinu selama dua tahun berturut-turut di wilayahnya. Kehadiran para mahasiswa dinilai efektif mendobrak kebiasaan buruk masyarakat dalam mengabaikan gejala penyakit kronis.
“Keberadaan para mahasiswa UGM di tengah-tengah pemukiman warga Margorejo memberikan kemanfaatan yang sangat nyata dan terukur. Selain berhasil mendongkrak literasi kesehatan warga mengenai mitigasi penyakit, kegiatan ini juga ampuh membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga kebersihan dan keselamatan tubuh merupakan tanggung jawab penuh setiap anggota keluarga, bukan hanya tugas bidan desa. Kami berharap sinergi lintas sektor antara perguruan tinggi dan pemerintah kalurahan ini terus dirawat agar program yang sudah dirintis mampu memicu dampak jangka panjang bagi peningkatan indeks pembangunan manusia di desa kami,” ujar Anwar Insani saat memberikan sambutan.
Dosen pembimbing lapangan sekaligus narasumber kegiatan, Purwanto, menjelaskan bahwa jika fokus tahun pertama berpusat pada pemetaan demografi dan identifikasi masalah, maka target tahun kedua ini ditekankan pada penguatan kapasitas kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat kesehatan (emergency). Keluarga wajib diposisikan sebagai lini pertama yang cakap mengeksekusi pertolongan pertama sebelum bantuan medis tiba di lokasi.
“Banyak kasus kegawatdaruratan domestik, seperti serangan jantung, tersedak, hingga kecelakaan rumah tangga, yang membutuhkan respons cepat sekian menit dari anggota keluarga atau tetangga terdekat demi menyelamatkan nyawa pasien. Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan dan keterampilan praktis masyarakat di akar rumput mengenai tindakan penyelamatan awal menjadi hal yang sangat krusial. Melalui pendekatan kolaborasi profesi ini, mahasiswa juga kami latih untuk melihat sebuah persoalan kesehatan secara holistik, tidak hanya mendiagnosis dari aspek klinis kedokteran saja, melainkan juga membedah faktor perilaku dan lingkungan sosialnya,” kata Purwanto menjabarkan esensi edukasi.
Melalui diseminasi data lapangan yang dikumpulkan oleh Angkatan 2024 ini, pemerintah kalurahan kini mengantongi draf rekomendasi akurat untuk mengarahkan kebijakan anggaran kesehatan desa secara lebih efektif. Langkah taktis ini diharapkan menjadi role model nasional mengenai bagaimana kolaborasi institusi pendidikan dan komunitas lokal mampu melahirkan masyarakat yang mandiri, responsif, dan tangguh dalam menangani isu kesehatan secara swadaya sejak dari dalam rumah. (SBD/KIM Senyum Tempel)


