Sleman – Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) memegang peran strategis dalam memajukan sektor budaya dan pariwisata sekaligus menghidupkan nilai-nilai Kejogjaan. Hal tersebut disampaikan Ketua KIM Sumber Biwara Moyudan, Sugiyanto saat menjadi narasumber dalam program interaktif NGOBRAS (Obrolan Komunitas) RRI Pro 1 Yogyakarta, Selasa (2/6/2026), bersama host Dina Febriana.
Menurut Sugiyanto, KIM tidak hanya berperan sebagai pengelola informasi desa, tetapi juga motor penggerak yang menginternalisasikan nilai budaya lokal kepada masyarakat maupun wisatawan.
Ada lima peran strategis KIM dalam ekosistem budaya dan pariwisata. Pertama, KIM sebagai kurator budaya yang mendokumentasikan tradisi, sejarah, dan ritual adat agar tidak punah. Kedua, sebagai juru cerita (storyteller) yang mengemas potensi wisata melalui media sosial dengan narasi yang menarik agar wisatawan memahami cerita di balik destinasi.
Ketiga, KIM berperan sebagai jembatan informasi yang menghubungkan aspirasi masyarakat dengan pemerintah maupun pihak swasta terkait pengembangan sektor wisata.
Keempat, sebagai penggerak Sapta Pesona dengan mengedukasi masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang aman, ramah, dan berkesan. Kelima, sebagai penangkal hoaks dengan memberikan klarifikasi cepat terhadap informasi yang tidak benar, khususnya terkait kegiatan budaya.
Sugiyanto juga menegaskan bahwa nilai-nilai Kejogjaan seperti unggah-ungguh, tepa selira, dan gotong royong tidak boleh berhenti sebagai slogan, tetapi harus diimplementasikan dalam berbagai aspek pariwisata.
Terdapat lima aspek penerapan nilai tersebut dalam pengembangan pariwisata. Pertama, penyajian budaya seperti pertunjukan seni yang tetap menjaga pakem dan makna filosofisnya. Kedua, pelayanan wisata dengan menerapkan keramahan dan sapaan khas seperti “monggo” dalam interaksi dengan pengunjung.
Ketiga, pengelolaan destinasi wisata berbasis gotong royong dan musyawarah warga, termasuk dalam penataan kampung wisata dan situs sejarah. Keempat, pengembangan produk kreatif UMKM yang mengangkat narasi budaya lokal. Kelima, edukasi wisatawan agar menghormati tata krama, terutama saat berada di kawasan sakral.
“KIM adalah kendaraan utamanya. Melalui konten kreatif seperti etika berkunjung atau makna filosofi tradisi, KIM menyebarkan nilai Kejogjaan sekaligus memperkuat daya tarik wisata,” ujar Sugiyanto yang juga menjabat di Bidang Litbang Forum KIM Sembada Sleman serta Bidang Pendidikan, Seni, Budaya, dan Pariwisata Forum KIM DIY.
Sugiyanto pun menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara budaya dan pariwisata.
“Budaya adalah jati diri, pariwisata adalah jembatannya. Dengan menjaga kearifan lokal, kita tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga membuka ruang bagi dunia untuk merasakan kehangatan Jogja yang sesungguhnya,” pungkasnya. (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)


