Sleman — Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sleman resmi membuka agenda Pelatihan Calon Petugas Sensus Ekonomi (SE) 2026 Gelombang II yang bertempat di Hotel Grand Mercure Yogyakarta, Jalan Laksda Adisucipto, Kabupaten Sleman, pada Senin (8/6/2026). Langkah akselerasi peningkatan kompetensi sumber daya manusia ini diambil sebagai bagian dari persiapan hulu sebelum draf pencacahan makro serentak dilaksanakan di seluruh Indonesia guna menangkap lanskap ekonomi nasional yang akurat, mutakhir, dan berkualitas.
Ketua Pelaksana dari BPS Kabupaten Sleman, Sudaryono, melaporkan bahwa agenda pelatihan gelombang kedua ini diikuti secara intensif oleh 370 peserta yang lolos seleksi dari berbagai wilayah kapanewon di Sleman. Selama masa karantina pelatihan, para calon investigator lapangan ini akan dibekali penyamaan persepsi terkait konsep definisi bisnis modern, standardisasi metodologi pendataan baku, teknik rekayasa instrumen digital, hingga tata cara wawancara efektif guna menembus keterbukaan data dari pelaku usaha.
“Pelatihan terstruktur ini memegang peranan vital untuk menjamin bahwa seluruh petugas memiliki frekuensi pemahaman yang sama terhadap draf konsep dan mekanisme pendataan sektoral di lapangan. Sinkronisasi pemikiran ini krusial agar data ekonomi yang diproduksi di tingkat tapak nantinya memiliki tingkat akurasi tinggi, berkualitas, tidak bias, serta sepenuhnya dapat dipertanggungjawabkan di hadapan publik,” ujar Sudaryono saat membacakan laporan kepanitiaan.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala BPS Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Dedi Cahyono, menegaskan bahwa Sensus Ekonomi merupakan hajatan statistik nasional skala raksasa yang hanya digelar satu kali dalam setiap dasawarsa. Sensus ini diposisikan sebagai cermin tunggal untuk memotret peta jalan dan evolusi struktur perekonomian Indonesia secara menyeluruh pasca-hantaman disrupsi global beberapa tahun terakhir.
Menurut analisisnya, pola pergerakan ekonomi dalam satu dekade terakhir menunjukkan kurva lompatan yang sangat drastis dan radikal. Perubahan masif tersebut ditandai dengan menjamurnya jenis usaha baru, evolusi model bisnis sirkular, masifnya penetrasi pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan dan platform digital, hingga pergeseran ekstrem pada pola konsumsi riil masyarakat urban maupun rural.
“Sensus Ekonomi 2026 merupakan momentum emas dan instrumen paling krusial bagi negara untuk memperoleh basis data gambaran terkini mengenai struktur serta karakteristik fundamental perekonomian Indonesia. Mengingat dinamika pasar digital bergerak sangat dinamis, tingkat keberhasilan makro dari proyek negara ini mutlak bertumpu pada kualitas kejujuran pencacahan petugas lapangan. Oleh karena itu, kami menuntut seluruh peserta pelatihan untuk menyerap materi secara sungguh-sungguh serta wajib menjunjung tinggi nilai profesionalisme dan integritas tanpa kompromi saat berhadapan dengan dunia usaha,” kata Dedi Cahyono menegaskan urgensi program nasional tersebut.
Kurikulum pembekalan dirancang secara komprehensif mencakup bedah kuesioner berlapis, pendalaman buku pedoman teknis, simulasi wawancara tatap muka (roleplay), hingga uji coba operasional aplikasi pendataan seluler yang akan digunakan saat pencacahan riil. Output dari pelatihan ini tidak sekadar bertumpu pada penguasaan kompetensi kognitif semata, melainkan diarahkan untuk membangun kekuatan mental dan tanggung jawab moral petugas dalam memberikan komitmen pelayanan terbaik kepada para pelaku industri.
Melalui standarisasi pelatihan yang ketat ini, BPS optimistis seluruh kluster petugas lapangan mampu mengeksekusi pendataan secara presisi tanpa menciptakan kegaduhan di iklim dunia usaha. Ketersediaan draf data ekonomi yang andal hasil dari Sensus Ekonomi 2026 ini nantinya akan dikonversikan menjadi fondasi utama bagi pemerintah pusat maupun daerah dalam merumuskan draf kebijakan pembangunan makro, insentif investasi, serta program pengentasan kemiskinan yang berbasis pada data ilmiah nyata. (Tri Suhartati/KIM Depok)


