Pasbuja Kawi Merapi Sleman Ditunjuk sebagai Induk Kelompok Masyarakat Kebudayaan

Sleman – Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Sleman ditunjuk Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman sebagai Induk Kelompok Masyarakat Kebudayaan Kabupaten Sleman. Penunjukan ini didasarkan pada rekam jejak Pasbuja Kawi Merapi Sleman dalam memberikan kontribusinya terhadap pelestarian kebudayaan, khususnya sastra Jawa.

Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Ita Kurniawati menjelaskan bahwa Pasbuja dinilai layak karena memiliki kemandirian, konsistensi, serta inovasi dalam menjalankan kegiatan, baik dengan maupun tanpa pendampingan pemerintah.

“Selain itu, salah satu syarat menjadi induk komunitas masyarakat adalah memiliki legalitas kelembagaan,” jelasnya dalam Sarasehan Budaya yang berlangsung di Ruang Rukun Dinas Kebudayaan Sleman, Rabu (10/6/2026).

Ita menambahkan, sebagai induk kelompok masyarakat kebudayaan, Pasbuja akan berperan sebagai wadah bagi berbagai komunitas seni dan budaya dalam upaya pelestarian objek pemajuan kebudayaan di Kabupaten Sleman. Sejumlah komunitas yang telah ada di antaranya Ruang Sastra Perempuan, Lonceng Aksara, Wijaya Kusuma, dan lainnya.

Menurutnya, komunitas yang tergabung akan tercatat dalam basis data kebudayaan daerah sehingga memperoleh perlindungan hukum serta prioritas dalam pembinaan dan fasilitasi dari pemerintah.

“Induk kebudayaan bertugas mengelola dan memperkuat jejaring komunitas bahasa, sastra, dan aksara di Kabupaten Sleman,” tandas Ita.

Sementara itu, Ketua Pasbuja Kawi Merapi, Sutopo Sugihartono menyambut baik penunjukan tersebut. Ia menilai penunjukkan tersebut merupakan bentuk kepercayaan sekaligus tanggung jawab besar bagi Pasbuja.

Induk Kelompok Kebudayaan tidak hanya menjadi tempat berkumpul para pegiat sastra dan budaya, tetapi juga ruang penyatuan visi dalam pelestarian nilai-nilai luhur budaya Jawa, seperti keselarasan hidup, tata krama, dan kebijaksanaan kolektif.

“Nilai-nilai tersebut menjadi filter sekaligus penyeimbang di tengah derasnya arus globalisasi digital yang memengaruhi generasi muda,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, sastrawan Budi Sarjono atau Budsar juga menilai penunjukan Pasbuja sebagai sebuah anugerah sekaligus tantangan untuk memperkuat literasi budaya, khususnya sastra Jawa.

Ia mencontohkan program penulisan antologi bertema Taru yang digagas Pasbuja sebagai upaya meningkatkan kualitas penulis. Kontributor diwajibkan mempertanggungjawabkan naskah yang dikirim dengan standar penulisan yang ketat.

“Harapannya, ke depan tim editor hanya bertugas menyeleksi naskah yang layak tanpa banyak melakukan penyuntingan,” pungkasnya. (Kusnadi KIM Berbah)

image_pdfimage_print
Bagikan: