Sleman – Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) UGM menghadirkan inovasi pemberdayaan masyarakat melalui Program Tumandur di Kampung Jurugsari, Padukuhan Joho, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman. Melalui pemanfaatan smart compost vessel, program ini mendorong pengelolaan sampah organik rumah tangga menjadi pupuk berkualitas sekaligus mengoptimalkan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga.
Sosialisasi program dilaksanakan di Balai RW 57 Kampung Jurugsari, pada Senin (22/6/2026). Kegiatan ini menjadi langkah awal pelaksanaan Program Tumandur yang akan berlangsung hingga pertengahan Agustus mendatang.
Acara tersebut diikuti oleh 16 anggota PKK Kampung Jurugsari dan dihadiri Ketua RW 57 Purwoko, Dukuh Joho Retnaningsih, Ketua PKK Kampung Jurugsari Rini, perwakilan Kalurahan Condongcatur Apri Nugroho, serta Tim PKM-PM Universitas Gadjah Mada.
Program Tumandur merupakan inisiatif pengabdian masyarakat yang mengedepankan solusi atas persoalan sampah organik rumah tangga melalui pendekatan teknologi tepat guna dan pemberdayaan warga. Dalam program ini, sampah organik dari dapur diolah menjadi pupuk menggunakan smart compost vessel, yakni sistem ember tumpuk yang dilengkapi sensor suhu dan pH untuk membantu memantau proses pengomposan sehingga berlangsung lebih optimal dan efisien.
Pupuk organik yang dihasilkan selanjutnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kesuburan tanah di pekarangan rumah. Dengan demikian, lahan yang sebelumnya kurang produktif dapat digunakan untuk menanam sayuran, rempah, tanaman obat keluarga, maupun komoditas pangan lainnya yang bermanfaat bagi kebutuhan sehari-hari.
Ketua Tim PKM-PM UGM, Siti Nur Khasanah, menjelaskan bahwa Program Tumandur dirancang tidak hanya untuk mengurangi timbulan sampah organik, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya ekonomi sirkular dan pemanfaatan sumber daya lokal.
“Kami berharap Program Tumandur dapat menjadi sarana belajar bersama bagi masyarakat dalam mengelola sampah organik menjadi sesuatu yang bernilai. Melalui pemanfaatan pekarangan rumah, kami juga ingin mendorong terciptanya lingkungan yang lebih hijau sekaligus mendukung ketahanan pangan keluarga,” ujarnya
Ketua RW 57 Kampung Jurugsari, Purwoko, menyampaikan apresiasi atas hadirnya inovasi dari mahasiswa UGM yang dinilai selaras dengan kebutuhan masyarakat dan arah pembangunan lingkungan di wilayahnya.
“Program ini sejalan dengan visi dan misi kami dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Kami juga memiliki rencana pemanfaatan lahan tidur di lingkungan RW yang sangat potensial untuk disinergikan dengan Program Tumandur sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh warga,” ungkapnya
Sementara itu, perwakilan Kalurahan Condongcatur, Apri Nugroho, menekankan pentingnya menjaga komunikasi, koordinasi, dan sinergi dalam setiap pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat.
“’Kami berharap seluruh pihak dapat terus menjaga komunikasi yang baik, membawa nama baik wilayah maupun institusi masing-masing, serta memastikan bahwa setiap kegiatan memberikan dampak positif dan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Melalui Program Tumandur, Tim PKM-PM UGM berharap Kampung Jurugsari dapat menjadi contoh praktik baik pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat yang inovatif, berkelanjutan, dan mudah direplikasi di wilayah lain. Program ini diharapkan mampu menumbuhkan budaya hidup ramah lingkungan, mengurangi volume sampah rumah tangga, meningkatkan produktivitas pekarangan, serta memperkuat ketahanan pangan keluarga sebagai fondasi menuju masyarakat yang mandiri, sehat, dan berdaya (Wasana / KIM Depok)


