Sleman – Pemerintah Kalurahan Caturtunggal mengambil langkah cepat dalam menekan angka tengkes (stunting) di wilayahnya. Melalui forum koordinasi lintas sektor yang dikemas dalam Rembuk Stunting Tingkat Kalurahan Tahun 2026, seluruh pemangku kepentingan menyepakati tiga program prioritas guna mempercepat penurunan kasus gagal tumbuh pada anak tersebut. Pertemuan strategis ini berlangsung di Ruang Karang Tumaritis, Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Senin (13/7/2026).
Rembuk stunting ini dihadiri oleh jajaran Pemerintah Kapanewon Depok, Pemerintah Kalurahan Caturtunggal, Puskesmas Depok III, Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal), pendamping desa, Kader Pembangunan Manusia (KPM), pengurus PKK, perwakilan sekolah, hingga kader posyandu setempat. Kehadiran berbagai unsur ini mempertegas komitmen kolektif dalam mengawal kesehatan ibu dan anak secara terpadu di tingkat kalurahan.
Penjabat Lurah Caturtunggal, Feri Ferdian, menyatakan bahwa persoalan stunting bukan sekadar masalah sektor kesehatan semata, melainkan tanggung jawab sosial bersama. Fluktuasi data kasus harus disikapi secara bijak dengan terus mengoptimalkan efektivitas program di lapangan.
“Penanganan stunting tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi harus melalui sinergi dari seluruh sektor. Diperlukan kesepahaman bersama di Kalurahan Caturtunggal agar setiap program dapat berjalan efektif. Semoga pertemuan ini memberikan manfaat dan memperkuat kerja sama lintas sektor sehingga program penanganan stunting dapat berjalan dengan baik,” ujar Feri Ferdian saat membuka jalannya forum.
Pentingnya pencegahan sejak dini juga digarisbawahi oleh Panewu Depok, Rakhmat Harinawan. Ia mengingatkan bahwa intervensi terbaik harus dimulai sejak masa kehamilan dengan mengoptimalkan periode emas anak.
“Peran ayah dan keluarga sangat penting sejak ibu mengandung hingga anak memasuki usia 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Selain itu, imunisasi lengkap, keaktifan datang ke Posyandu, dan keterlibatan seluruh anggota keluarga menjadi bagian penting dalam mencegah stunting,” jelas Rakhmat Harinawan.
Berdasarkan hasil pemetaan dari Kader Pembangunan Manusia (KPM) dan analisis kesehatan dari Puskesmas Depok III, wilayah Caturtunggal masih menghadapi sejumlah tantangan. Hambatan tersebut meliputi belum lengkapnya data kependudukan balita seperti Nomor Induk Kependudukan (NIK), serta masih adanya ibu hamil yang belum disiplin mengonsumsi tablet tambah darah maupun melakukan pemeriksaan kehamilan berkala.
Guna mengatasi persoalan tersebut secara taktis, forum rembuk menyepakati tiga program prioritas yang akan segera diimplementasikan dalam waktu dekat. Program pertama adalah pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi anak-anak di jenjang TK dan PAUD. Program kedua berfokus pada edukasi pengolahan dan pemberian makanan bergizi yang menyasar guru PAUD, guru TK, serta perwakilan wali murid. Sementara program ketiga menyasar penguatan edukasi mengenai 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) bagi pasangan ibu hamil dengan melibatkan peran aktif para suami atau ayah.
Melalui kesepakatan tiga program prioritas ini, koordinasi lintas sektor di Caturtunggal diharapkan semakin solid. Validasi data sasaran akan terus diperbaiki agar seluruh bantuan gizi dan intervensi kesehatan tepat sasaran, demi mencetak generasi masa depan Sleman yang sehat dan bebas stunting (Oktaviana/KIM Depok).


