Sleman – Suasana Aula 1 MAN 4 Sleman terlihat berbeda pada Selasa (14/7/2026). Di tengah rangkaian Masa Ta’aruf Murid Baru (Mata Muda), para peserta didik baru tidak hanya dikenalkan dengan lingkungan madrasah, tetapi juga mendapat pelajaran istimewa tentang kepemiluan dari Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Sleman. Kegiatan yang diikuti oleh 180 siswa ini dikemas secara interaktif dan penuh wawasan, dengan tujuan membangun kesadaran politik sejak dini di kalangan generasi muda.
Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Hubungan Masyarakat Bawaslu Sleman, Raden Yuwan Sikra, hadir sebagai narasumber dan menekankan betapa pentingnya peran generasi muda dalam pesta demokrasi. Menurutnya, pemilih pemula adalah pemilik masa depan bangsa yang sudah seharusnya memahami esensi pemilu secara utuh, bukan sekadar ikut-ikutan. Di hadapan para siswa, ia memaparkan data dari jumlah pemilih di Sleman. Dari total 853.209 pemilih terdaftar, hampir separuhnya didominasi oleh kaum muda, dengan rincian generasi Z mencapai 174.267 jiwa atau 18 persen, generasi milenial 263.206 jiwa atau 30 persen, dan generasi X 253.340 jiwa atau 30 persen.
Angka ini menjadi modal besar bagi suksesnya pemilu, namun Yuwan mengingatkan agar para pemilih pemula hanya mengakses informasi yang akurat dan valid serta tidak mudah terperdaya oleh berita bohong atau hoaks.
Lebih jauh, Yuwan mengajak generasi Alpha yang hadir untuk bertransformasi menjadi pemilih rasional. Ia menegaskan bahwa memilih pemimpin harus didasarkan pada ide, gagasan, dan program nyata, bukan sekadar popularitas atau iming-iming.
“Kenali rekam jejak calon, pahami visi-misinya, dan yang terpenting, tolak segala bentuk politik uang, intimidasi, maupun informasi sesat. Jangan lupa, suara anak muda juga harus menyuarakan isu-isu krusial seperti kesetaraan gender dan hak-hak disabilitas,” imbuhnya.
Di akhir sesi, Yuwan membagikan resep rahasia menjadi pemilih cerdas, yaitu teliti sebelum memilih dengan mencermati rekam jejak dan program calon, menolak politik uang karena harga diri bangsa lebih mahal dari sekadar uang sogok, serta mengawal setelah terpilih karena pengawasan tidak berhenti di hari pemungutan suara.
Dengan penyajian materi yang kekinian dan sesi tanya jawab yang cair, para siswa tampak bersemangat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Acara ditutup dengan komitmen bersama untuk menjadi generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga cerdas dalam berdemokrasi. (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)


