Wisatawan Perancis Kagumi Lurik Tenun Moyudan

Sleman – Keindahan lurik tenun khas Moyudan kembali menarik perhatian wisatawan mancanegara. Sepasang wisatawan asal Perancis, Patrick dan Natali, mengunjungi sentra produksi Lurik Pakel Arum di Padukuhan Pakelan, Kalurahan Sumberarum, Kapanewon Moyudan, Sleman, Rabu (15/7/2026).

Mereka menyaksikan langsung proses pembuatan lurik dan stagen yang masih mempertahankan teknik tradisional. Pemilik usaha, Dwi Susilowati, bersama suaminya, Didik Karyadi, turut menjelaskan tahapan produksi kepada para tamu.

“Saya benar-benar takjub melihat proses menenun. Ini seperti museum hidup yang tidak pernah saya temukan di negara saya,” ujar Patrick.

Usaha yang dirintis sejak 2012 tersebut merupakan warisan keluarga Dwi. Selain memproduksi kain lurik, Pakel Arum juga menghasilkan stagen yang telah dipasarkan hingga Malaysia, Singapura, Jepang, dan Korea.

Meski demikian, Dwi mengaku masih menghadapi kendala, terutama minimnya regenerasi penenun.

“Tantangan kami adalah kurangnya tenaga penenun. Hingga kini masih sedikit generasi muda yang tertarik menekuni profesi ini, meski proses produksi sudah dibantu mesin,” ungkapnya.

Semangat melestarikan tradisi justru datang dari penenun senior. Wagimin (75) masih aktif menenun sejak usia muda. Dalam sehari, ia mampu menghasilkan dua stagen dengan panjang masing-masing 10 meter.

“Saya tidak memikirkan upahnya. Bagi saya, menenun membuat badan tetap sehat,” katanya.

Kunjungan wisatawan asal Perancis tersebut diharapkan semakin memperkenalkan lurik tenun Moyudan ke pasar internasional sekaligus mendorong pelestarian warisan budaya lokal. (Giek/KIM Moyudan)

image_pdfimage_print
Bagikan: