Sleman – Sembilan mahasiswa Institute for Inter-Faith Dialogue in Indonesia (Interfidei) mendalami integrasi antara nilai-nilai keberagamaan dan kelestarian lingkungan melalui Program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening, Kabupaten Sleman, pada Minggu (26/07/2026). Kegiatan ini diselenggarakan untuk memberikan wawasan aplikatif mengenai pengelolaan air hujan sebagai solusi atas ancaman krisis air dan media perekat dialog antarumat beragama.
Dalam agenda PPL tersebut, para mahasiswa berdiskusi secara interaktif bersama Pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih, di Joglo Sekolah Air Hujan setempat. Didampingi oleh Media and Communication Officer Interfidei, Akbar Hasyemi Rafsanjani, diskusi ini dirancang untuk memperluas perspektif mahasiswa agar tidak hanya memahami dialog lintas iman secara teoritis, tetapi juga melihat aksi nyata kepedulian ekologis di masyarakat.
Selama kegiatan, para peserta mempelajari teknis penampungan, pengolahan, dan pemanfaatan air hujan secara aman sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP). Pemanfaatan air hujan ini dipandang sebagai langkah konkrit untuk memperkuat ketahanan air secara mandiri, sekaligus menjadi ruang refleksi atas tanggung jawab moral manusia terhadap alam.
Media and Communication Officer Interfidei, Akbar Hasyemi Rafsanjani, menyatakan bahwa diskusi ini memberikan pemahaman baru bagi mahasiswa mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sebagai bentuk pengamalan ajaran agama.
“Diskusi ini pun menjadi ruang refleksi mengenai konsep ekologi Islam, bahwa merawat bumi merupakan bagian dari amanah manusia sebagai khalifah untuk menjaga dan menghormati seluruh ciptaan Tuhan, termasuk memaknai setiap tetes air sebagai sumber kehidupan yang harus dikelola secara bijaksana,” ujar Akbar Hasyemi Rafsanjani.
Di sisi lain, Pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih, mengingatkan pentingnya mengantisipasi krisis air bersih sejak dini. Menurutnya, kelangkaan air berpotensi memicu persoalan sosial yang kompleks jika tidak ditangani dengan inovasi pengelolaan air yang berkelanjutan.
“Kelangkaan air berpotensi memicu berbagai persoalan sosial apabila tidak diantisipasi sejak dini. Saat ini, sejumlah wilayah mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih dan harus bergantung pada distribusi air atau dropping yang membutuhkan biaya tidak sedikit,” tandas Sri Wahyuningsih.
Melalui program PPL ini, para mahasiswa diharapkan mampu membawa semangat pengamalan nilai-nilai kemanusiaan dan tanggung jawab ekologis ke dalam kehidupan bermasyarakat. Pembelajaran di SAH Banyu Bening menegaskan bahwa pengelolaan air hujan bukan sekadar isu lingkungan, melainkan medium edukasi dan kolaborasi lintas iman untuk membangun masa depan yang berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)


