Sleman – Pengurus Muda-Mudi Jambean menggelar lomba mewarnai gambar tingkat TK dan PAUD se-Kapanewon Tempel di lokasi wisata Pasar Jadul Sicangkring, Padukuhan Jambean, Kalurahan Banyurejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (25/07/2026). Perhelatan bertajuk Jambean Art #1 ini diselenggarakan untuk menyongsong Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus mendongkrak keberadaan destinasi wisata kuliner tradisional setempat.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Lurah Banyurejo Sapardjo, Kepala Dukuh Jambean Mugito, Ketua Paguyuban Pasar Sicangkring Eko Putro Susilo, para pengajar, wali murid, serta para wisatawan.
Ketua Panitia Lomba, Yofi Rasya, melaporkan bahwa kompetisi ini diikuti oleh 44 peserta yang terbagi dalam kategori PAUD, TK A, dan TK B untuk memperebutkan posisi tiga besar di setiap kategori. Ia menegaskan bahwa agenda ini diselenggarakan sebagai ruang tumbuh kembang kreativitas anak sekaligus ajang promosi UMKM lokal.
“Lomba bukan sekadar mencari menang dan kalah, tetapi lebih bertujuan untuk memberikan ruang ekspresi pada anak dalam mengembangkan motorik halusnya, dan melatih anak untuk menanamkan rasa percaya diri. Kegiatan ini juga untuk lebih memperkenalkan keberadaan Pasar Jadul Sicangkring pada masyarakat, serta membantu peningkatan pendapatan bagi UMKM yang buka lapak di sini,” ujar Yofi Rasya.
Lurah Banyurejo, Sapardjo, memberikan apresiasi atas inisiatif pemuda setempat dan menyampaikan komitmen pemerintah kalurahan untuk terus melengkapi sarana prasarana pendukung di Pasar Jadul Sicangkring. Menurutnya, tema kegiatan “Hijaukan imajinasi, hidupkan kreasi” sangat tepat untuk menanamkan kepedulian lingkungan kepada anak sejak dini.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Pasar Jadul Sicangkring, Eko Putro Susilo, menceritakan awal berdirinya pasar kuliner tersebut pada 1 Januari 2021 yang memanfaatkan potensi kawasan perlintasan wisatawan menuju Candi Borobudur di tepi Sungai Krasak.
“Bersama 15 UMKM yang semuanya warga Jambean, kami tata dan konsisten bersama-sama berjualan setiap hari Sabtu dan Minggu. Harapan kedepannya, Pasar Jadul Sicangkring terus berkembang menjadi destinasi wisata alternatif Sleman dan tempat berkumpulnya pecinta kuliner tradisional Yogyakarta sehingga bisa meningkatkan perekonomian warga,” kata Eko Putro Susilo.
Sinergi antara pemuda, pemerintah kalurahan, dan kemitraan akademisi dari berbagai perguruan tinggi ini diharapkan mampu mengukuhkan eksistensi Pasar Jadul Sicangkring sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis wisata budaya dan kuliner tradisional. (Sulistiyono/KIM Seyegan)


