Sleman – Kalurahan Sidoluhur, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman, terus memperkuat komitmennya dalam mewujudkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Langkah nyata ini diwujudkan melalui program sosialisasi pengelolaan sampah tingkat padukuhan yang didanai Dana Desa dengan sasaran 13 padukuhan, yang diawali dengan kegiatan perdana di Pendopo Kalurahan Sidoluhur pada Kamis (30/07/2026).
Program edukasi ini diselenggarakan sebagai langkah krusial dalam menindaklanjuti Surat Edaran Bupati Sleman yang mendorong pembentukan Lembaga Pengelolaan Sampah di setiap padukuhan guna mendukung target Sleman Tuntas Sampah.
Lurah Sidoluhur, Hernawan Zudanto, menegaskan bahwa gerakan pemilahan sampah dari rumah tangga di wilayahnya sebenarnya telah berjalan dan disokong infrastruktur terpadu, mulai dari bank sampah padukuhan, TPS3R Luhur Berseri, hingga insinerator yang dikelola BUMKal Luhur Sembada sejak 2024. Melalui skema ini, warga diajak memilah sampah organik dan anorganik dari sumbernya sehingga hanya sampah residu yang masuk ke fasilitas pengolahan akhir. Sebagai dorongan, Pemerintah Kalurahan Sidoluhur memberikan insentif khusus berupa penurunan tarif retribusi sampah bagi warga yang disiplin memilah dari rumah.
Dalam sosialisasi yang diikuti perwakilan Padukuhan Pandean dan Kragilan tersebut, Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) Kapanewon Godean, Farid Fakhrudin, memaparkan pentingnya peran aktif masyarakat di tengah melonjaknya volume sampah daerah.
“Produksi sampah per orang per hari telah mencapai sekitar 0,52 kilogram. Dengan total produksi lebih dari 500 ton setiap hari, tiga TPST yang dimiliki Kabupaten Sleman baru mampu menangani sekitar separuhnya. Karena itu, pengurangan sampah harus dimulai dari rumah tangga melalui pemilahan sampah,” ujar Farid Fakhrudin.
Ia menerangkan bahwa komposisi sampah didominasi oleh limbah organik sebanyak 55 persen, plastik 20 persen, kertas 13 persen, sampah lainnya 9 persen, serta residu yang hanya 3 persen. Farid turut membagikan kisah sukses KSM Rukun Makmur Gancahan yang mengawali gerakan ‘ronda sampah–dudah sampah’ secara bergotong royong sebagai inspirasi.
“Saya percaya masyarakat Sidoluhur memiliki potensi besar. Jika pemilahan sampah dilakukan secara disiplin dan berkelanjutan oleh seluruh warga, maka pengurangan sampah dapat diwujudkan secara masif dan menjadi contoh bagi wilayah lain,” tutur Farid Fakhrudin.
Melalui rangkaian sosialisasi ke seluruh padukuhan ini, Pemerintah Kalurahan Sidoluhur berharap budaya memilah sampah dari rumah tangga semakin mengakar luas, sehingga efektif memangkas beban sampah akhir sekaligus mewujudkan Sleman yang bersih dan berkelanjutan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)


