Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman optimis produk-produk unggulan dari Sleman mampu bersaing dan siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN yang mulai berjalan.
“Kami optimis produk-produk dari Sleman mampu bersaing dan siap menghadapi MEA. Selama ini kami telah memberikan bekal kepada para pelaku usaha guna menghadapi MEA ini,” kata Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi, Minggu (24/1).
Menurut Gatot sebanyak 12,9 persen mata pencaharian Kabupaten Sleman yaitu di sektor pertanian, sedangkan sebesar 23,19 persen lainnya didukung oleh sektor perdagangan, hotel, dan restoran.
Diungkapkan pula bahwa industri-industri yang hadir di Kabupaten Sleman juga turut menyumbangkan kemajuan ekonomi di Kabupaten Sleman.
“Karena itu, pemerintah berusaha menyokong industri-industri kecil dan menengah di Kabupaten Sleman agar siap menghadapi MEA di tahun ini,” katanya.
Sementara Ketua Asosiasi Petani Salak Prima Sembada Sleman, Maryono mengatakan potensi Kabupaten Sleman yaitu salak. Yang unik dari UKM ini adalah biji salak pondoh asli Kabupaten Sleman pun turut dimanfaatkan sebagai bahan baku kopi untuk produk kopi salak.
“Ini adalah hal pertama yang ada di Sleman. Dan yang membanggakan lagi, produk salak pondoh dari Asosiasi Petani Salak Prima Sembada Sleman ini sudah di ekspor di beberapa negara. Ini membuktikan bahwa Kabupaten Sleman sudah siap dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang tengah berlangsung,” kata Maryono.
Dikatakan Maryono, Asosiasi Petani Salak Prima Sembada Sleman memiliki 34 kelompok. Produk salaknya ada salak gading dan madu dan ini merupakan produk asli Sleman. Asosiasi sendiri berdiri sejak tahun 2008 seiring dengan menurunnya harga salak di dalam negeri.
Kemudian pada tahun 2015 Asosiasi salak pondoh ini bisa meningkatkan harga salak pondoh. Yang semula salak pondoh hanya Rp 3 ribu per kg jika musim panen bisa mencapai harga Rp 15 ribu per kg jika musim langka.
Dari 140 petani salak ini mampu menghasilkan 4 ribu ton dengan 200 hektar lahan. Hasil produksi 90 persen masih untuk pasaran lokal. Dan ekspor sudah dilakukan ke Singapura dan Cina. Untuk tahun 2016 ini tengah membidik pasar Eropa seperti ke Jerman, Perancis.
“Untuk memenuhi permintaan ekspor ini Asosiasi sudah memiliki sertifikasi dari IMO dan Control Union. Harapan kami dengan pasaran ekspor kwalitasnya bisa ditingkatkan,” kata Maryono.
Untuk pasaran Eropa lanjutnya yg diminta salak kering yang dioven dan Asosiasi sudah mencoba mengadakan alatnya. Harapannya ekspor meningkat 13 ton per minggu.


