Indeks Harmoni Sleman Capai 6,95, Kerukunan Umat Beragama Jadi Kekuatan Sosial

Sleman – Kabupaten Sleman mencatat capaian positif dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Berdasarkan pengukuran tahun 2025, Sleman memperoleh Indeks Harmoni Indonesia sebesar 6,95 dari skala 9 dan masuk dalam kategori baik.

Capaian tersebut ditopang oleh sejumlah dimensi, yakni ekonomi dengan skor 6,75, sosial 6,99, budaya 6,90, dan keberagamaan 7,21. Dimensi keberagamaan menjadi komponen dengan nilai tertinggi.

Kepala Bidang Politik Dalam Negeri dan Ketahanan Nasional Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sleman, Achmad Raharjo mengatakan capaian tersebut menunjukkan kehidupan sosial masyarakat Sleman relatif harmonis. Tingkat toleransi dan hubungan sosial antarmasyarakat dinilai berjalan dengan baik.

Hal tersebut disampaikan Achmad saat menjadi narasumber dalam talkshow Pasar Bela Negara Sleman edisi ke-40 yang berlangsung di kawasan Lapangan Pemda Sleman, Jumat (14/8/2026). Talkshow tersebut dipandu Andy Ahmad Akbar dari KIM DSN Sleman.

Menurut Achmad, kerukunan umat beragama menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga kehidupan masyarakat yang damai. Ia mengajak masyarakat terus membangun suasana positif melalui pesan sederhana berupa damai, rukun, dan bahagia.

“Salam damai, rukun, bahagia ini adalah kata-kata kunci yang membangun kerukunan. Ini menjadi afirmasi positif bagi kita semua,” ujarnya.

Ia menambahkan, semangat kemerdekaan Republik Indonesia juga perlu dimaknai melalui penghormatan terhadap kebebasan beragama sebagaimana dijamin dalam Pasal 29 Ayat (2) UUD 1945, yang menegaskan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya.

Dalam konteks tersebut, Achmad turut menyinggung keberadaan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sleman periode 2025–2030. Menurutnya, kepengurusan FKUB tersebut mencerminkan semangat kebersamaan dan kolaborasi lintas agama, salah satunya ditunjukkan dengan ketua yang berasal dari perwakilan umat Konghucu.

Achmad menegaskan bahwa menjaga kerukunan umat beragama bukan sekadar upaya menciptakan kehidupan sosial yang nyaman, tetapi juga menjadi bagian dari implementasi bela negara.

“Menjaga kerukunan umat beragama juga merupakan salah satu bentuk bela negara,” katanya.

Ia menyebut kehidupan antarumat beragama di Sleman saat ini relatif kondusif dan belum menunjukkan adanya potensi konflik yang menonjol. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu terus dipelihara melalui komunikasi, toleransi, serta sikap saling menghormati di tengah keberagaman masyarakat.

Sementara itu, Pasar Bela Negara merupakan kegiatan yang diinisiasi Badan Kesbangpol Sleman bersama Carya Budhi Cantya, lembaga pendamping UMKM. Kegiatan yang rutin digelar setiap Jumat pagi di kawasan utara Lapangan Pemda Sleman tersebut tidak hanya menjadi ruang promosi bagi pelaku UMKM, tetapi juga menghadirkan talkshow dan berbagai kegiatan yang mengangkat nilai-nilai kebangsaan.

Beragam makanan dan minuman tradisional turut meramaikan pasar tersebut. Selain mendukung pelaku UMKM, kegiatan juga menjadi ruang interaksi antara masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah.

Menutup talkshow, Achmad mengajak masyarakat mengisi kemerdekaan dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tidak cukup hanya diwujudkan melalui upacara dan berbagai perayaan.

“Semangat kemerdekaan jangan hanya diisi dengan upacara dan perayaan. Mari kita isi dengan kehidupan sosial yang rukun dan bersama-sama berjuang membangun Indonesia untuk meraih Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (Andy Ahmad – KIM DSN Ngaglik)

image_pdfimage_print
Bagikan: