Mentan Minta Alih Fungsi Lahan Diminimalisir

PanenSleman – Kepala Daerah memiliki peran penting untuk mengeluarkan kebijakan yang melindungi pertanian dari banyaknya pembangunan perumahan. Apalagi sekarang ini keberadaan lahan pertanian di Pulau Jawa khususnya DIY sudah terancam oleh alih fungsi lahan. Hal itu disampaikan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman saat menghadiri panen raya di Candisingo Desa Madurejo Kecamatan  Prambanan, Rabu (2/1).

“Dari pusat kami selalu mensuport agar alih fungsi lahan diminimalisir. Saya minta kepada Kepala Daerah Gubernur dan Bupati untuk tetap mempertahankan lahan pertanian,” kata Amran.

Amran juga menjelaskan pihaknya selalu berkoordinasi dengan kepala daerah terkait dengan peningkatan produktivitas pertanian. Bahkan di Sleman ditargetkan penambahan lahan seluas 100 hektar. Target tersebut merupakan jawaban dari permintaan Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI yang ingin memanfaatkan lahan mangkrak seluas 50 hektar di Cangkringan, akibat erupsi Merapi.

“Saya penuhi cetak sawah 50 hektar, kalau Pemkab bisa menyediakan lahan 100 hektar akan lebih baik,” kata Amran.

Dalam kunjungan tersebut, menteri juga memberikan sejumlah bantuan kepada kelompok tani yang ada di desa Madurejo. Bantuan yang diberikan meliputi pompa air, alat panen dan taktor tangan.

“Saya minta alat-alat ini sampai ke petani. Bila tidak petani silahkan datang ke saya semua biaya saya ganti nanti,” janjinya.

Sementara itu Sri Purnomo dihadapan Mentan memaparkan meski mengalami penyusutan lahan, produksi pertanian di Sleman mengalami peningkatan. Tercatat di 2014 hasil produksi sebesar 314.298 ton gabah kering giling  dengan luas panen 52.232 hektar dan produktivitas 60,17 kwintal per hektar. Sementara di tahun 2015, jelasnya, dengan luas panen 50.356 hektar berhasil memproduksi 328.683 ton gabah kering giling dengan luas dengan produktivitas 66,91 kwintal per hektar.

Menurut Sri Purnomo meski luas panen menurun, namun produksi padi yang dihasilkan justru mengalami peningkatan karena produktivitas yang meningkat. Untuk sasaran luas panen di tahun 2016 lanjutnya tercatat pada bulan hingga Maret sebesar 26.181 hektar.  Pada bulan April hingga September 2016 sebesar 24.65 hektar.

“Sehingga, sasaran luas tanam total pada bulan Oktober hingga September sebesar 50.831hektar. Kami optimis produksi padi pada tahun 2016 dapat kembali mengalami surplus,” tutur Sri Purnomo.

Ditambahkan Sri Purnomo, di tahun 2015 sektor pertanian menyerap tenaga kerja terbanyak yang mencapai 23,01 persen dari jumlah penduduk Sleman yang mencapai 1.063.984 jiwa. Sektor pertanian juga menjadi penyumbang PDRB terbesar di Kabupaten Sleman yaitu sebesar 13,15 persen pada tahun 2015.

“Untuk hasil pertanian padi, pada tahun 2015 mengalami surplus hasil produksi,” katanyanya.

Sri Purnomo  mengakui produksi padi di Sleman memiliki sejumlah tantangan. Salah satu tantangan yang dirasakan adalah karena adanya alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian yang menyebabkan penurunan luasan lahan pertanian. Untuk itu pihaknya berupaya  untuk meningkatkan inovasi dalam menjawab tantangan yang ada.

“Pemkab Sleman  telah menggalakkan pola tanam jajar legowo dan mewajibkan pola tanam jajar legowo bagi kelompok tani yang menerima bantuan,” katanya.

Keunggulan dari pola tanam ini adalah peningkatan hasil produksi, karena pola tanam ini berimplikasi pada kemudahan dalam pemberian pupuk dan pengendalian organisme penggangu.

“Pola ini juga memiliki kemampuan dalam menjaga kesuburan tanah karna adanya jarak tanam,” jelasnya.

image_pdfimage_print
Bagikan: