Sleman – Meningkatnya potensi bencana pada musim pancaroba seperti sekarang ini membuat masyarakat bantaran sungai harus senantiasa meningkatkan kewaspadaannya. Pasalnya curah hujan akan semakin meningkat, sehingga luapan air sungai dapat terjadi sewaktu-waktu.
“Meskipun di tempat kita tidak hujan, bisa jadi di hulu sungai di Merapi hujan. Seperti di wilayah Kecamatan Cangkringan, Pakem, dan Turi. Nah itu yang bisa menyebabkan luapan air sungai dan banjir,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Makwan di Pemkab Sleman, Senin (14/3).
Apalagi menurut Makwan, aliran dari hulu sungai di Merapi biasanya membawa material vulkanik dan menyebabkan banjir lahar. Saat ini ada lima sungai besar yang rawan banjir. Antara lain sungai Boyong, Gendol, Kuning, Opak, dan Krasak.
Selain itu, tahun ini ada sungai kecil yang berpotensi banjir, yakni sungai Denggung. Padahal tahun-tahun sebelumnya aliran sungai tersebut terbilang aman. Adapun titik-titik rawan banjir di Bantaran Sungai Denggung meliputi wilayah di sekitar SD Donokerto dan Karanggeneng Sendangadi Mlati.
“Karena itu kami sudah meminta agar seluruh masyarakat mengantisipasi kerugian yang dapat muncul akibat bencana banjir,” tutur Makwan.
Sementara Kepala BPBD Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito SH MH membenarkan hal tersebut. Ia menjelaskan, setidaknya ada dua hal penting yang harus dilakukan oleh masyarakat di bantaran sungai.
Pertama mengamankan berkas penting dan memindahkan benda elektronik ke tempat yang lebih tinggi, seperti CPU komputet. Kedua, menandai batas banjir. Antara lain dengan cara mengukur kedalaman banjir, lalu memberi tanda di tembok misalnya.
Julisetiono juga menjelasakan, hal tersebut penting dilakukan untuk mengukur perubahan volume banjir dari tahun ke tahun. Sehingga masyarakat dapat lebih waspada di musim-musim berikutnya. Sebab, menurutnya, fenomena bencana di Sleman selalu meningkat dari tahun ke tahun.
Adapun rumah yang terendam akibat banjir Sabtu (12/3) sebanyak 32 rumah, dengan total kerugian diperkirakan sebesar Rp 200 juta. “Titik rawan banjir sekarang terus berkembang. Maka itu kami harap masyarakat lebih waspada,” ujar Julisetiono.
Selain waspada banjir, pada peralihan musim ini, Julisetiono juga meminta agar masyarakat mengantisipasi bencana angin kencang, kebakaran, petir, dan longsor akibat hujan lebat. Sementara itu musim pancaroba akan terus berlangsung hingga April mendatang.
Adapun peningkatan kejadian bencana meliputi angin kencang dan kebakaran. Pada 2014 bencana angin kencang terjadi sebanyak 23 kejadian. Lalu 2015 menjadi 50 kejadian dengan korban meninggal tiga orang. Sedangkan 2016 hingga Maret ada sebanyak 15 kejadian.
Sementara kebakaran pada 2014 sebanyak 83 kejadian, 2015 ada 153 kali kejadian, dan 2016 hingga Maret 10 kejadian. “Kebanyakan disebabkan oleh arus pendek listrik, kelalaian menggunakan api, dan tabung gas,” tutur Julisetiono.


