Sleman – Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI menegaskan intensitas hujan yang masih cukup tinggi di kawasan utara masih menjadi ancaman banjir lahar dingin di sejumlah sungai berhulu Gunung Merapi.
”Kesiapsiagaan masyarakat harus ditingkatakan dalam melakukan mitigasi bencana,” kata Sri Purnomo, Kamis (17/3).
Menurut Sri Purnomo, mitigasi dan penanggulangan bencana bukan hanya tugas pemerintah saja, melainkan tugas bersama terutama masyarakat yang berada di kawasan rawan bencana.
”Relawan kini bisa memantau potensi banjir lahar dingin dari ketinggian yang cukup baik. Sebab sudah ada pos pemantau dan di pos tersebut juga disediakan teropong untuk memantau pergerakan air maupun lahar dingin dari Merapi,” kata Sri Purnomo.
Keberadaan pos pemantauan ini yang pertama dibangun di kawasan sungai-sungai besar yang berhulu di Gunung Merapi.
”Meski begitu, tidak mengurangi pengawasan terhadap aliran sungai lainnya. Sebab, warga sudah ada yang secara swadaya mendirikan perangkat Early Warning System (EWS) di sejumlah titik,” kata Sri Purnomo.
Sri Purnomo mengatakan, Pemkab Sleman juga sudah memasang kamera CCTV di beberapa titik untuk memantau aliran sungai berhulu Merapi.
Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito SH MM mengatakan, sungai Gendol saat ini relatif lebih aman setelah dilakukan normalisasi aliran pascaerupsi Merapi 2010
”Namun masyarakat masih harus waspada terhadap ancaman banjir lahar dingin karena masih ada sekitar 20 juta meter kubik material Merapi yang masih tertahan di puncak Merapi,” kata Julisetiono.
Melalui pos pemantauan ini maka diharapkan ancaman bencana dapat diminimalisir karena pergerakan air dari puncak Merapi dapat terpantau.


