Semi Finalis Dimas Diajeng Sleman 2016 Jalani Tes Bebas Narkoba dari BNN

Sleman – Sebanyak 30 pasang semi finalis Dimas Diajeng Sleman 2016 mengikuti tes narkoba yang digelar oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Sleman di kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman, Senin (21/3).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari seleksi Dimas Diajeng Sleman 2016 dan baru dilaksanakan tahun ini. Kegiatan yang merupakan kerja sama antara BNN dengan Disbudpar Sleman  sengaja dilakukan secara mendadak untuk menghindari kecurangan. Tes dilakukan dengan cara uji urine oleh petugas BNN Sleman menggunakan rapid test multi parameter di kantor Disbudpar setempat.

Kepala Disbudpar Sleman, Ir AA Ayu Laksmi Dewi TP MM mengatakan selain mengikuti sosialisasi bebas narkoba semi finalis Dimas Diajeng 2016 ini memang diundang untuk mengikuti tes bebas narkoba.

“Sebelumnya memang tidak diberitahu tetapi hanya diundang untuk melengkapi persyaratan yang kurang sehingga peserta tidak tahu kalau diminta untuk ikut tes bebas narkoba,” kata Ayu.

Hal ini dimaksudkan agar Dimas Diajeng Sleman yang menjadi ikon remaja Sleman tidak terpengaruh dengan hal-hal negatif seperti menggunakan narkoba.

“Tes urine ini jJangan menjadi beban mari manfaatkan kesempatan dengan baik untuk membangun Sleman dengan menyandang predikat remaja Sleman yang bebas narkoba,” kata Ayu.

Untuk tes narkoba ini dimasa mendatang tidak hanya pada pemilihan Dimas Diajeng 2016 saja tetapi juga pada kesempatan lainnya. Sementara Kepala BNN Sleman, Drs Kuntadi menyambut baik dan mengapresiasi Disbudpar Sleman yang menyelenggarakan tes narkoba untuk peserta Dimas Diajeng 2016.

“Tahapan seleksi Dimas Diajeng tidak hanya sosialisasi narkoba tetapi juga dilakukan tes narkoba apalagi sekarang ini Indonesia sudah darurat narkoba,” kata Kuntadi.

Menurut Kuntadi, tahun 2016 Disbudpar melibatkan BNN tidak hanya melakukan pemahaman tetapi juga melakukan tes urine. Sleman prevelansinya 1,27 persen pengguna narkoba, sementara DIY masuk rangking lima setelah DKI dan Sumatra.

“Sleman kondisi geografisnya memang mendukung, apalagi ada Perguruan Tinggi  40 lebih dan banyak pemondokan, tempat hiburan dan banyak tempat lainnya,” kata Kuntadi.

Diakui Kuntadi, ada beberapa wilayah yang rawan terhadap peredaran narkoba, diantaranya Depok, Gamping, Mlati, Ngaglik dan Kalasan. Sedang daerah lainnya masuk rangking dua rawan narkoba.

Ketika ditanya hasil tesnya, Kuntadi mengatakan jika hasilnya negatif tidak masalah. Dan kalau hasilnya positif tentu akan dilakukan pendekatan kalau bukan jaringan atau pengedar.

“Kalau hanya sebagai korban atau pengguna akan diusahakan direhab. Karena itu kami harapkan bagi pengguna lebih baik lapor sehingga akan lebih mudah dilakukan rehabilitasi,” tutur Kuntadi.

image_pdfimage_print
Bagikan: