Sleman – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman menyinergikan kebijakan untuk memungkinkan setiap anak yang lahir di daerah tersebut menjalani pertumbuhan dan perkembangan menjadi sehat, cerdas, serta berkualitas.
”Dengan kebijakan tersebut, Pemkab Sleman berupaya menyinergikan berbagai aspek, mulai dari upaya untuk mewujudkan kesehatan ibu hamil, pemberdayaan keluarga, baik secara ekonomi maupun sosial, pendidikan anak, menciptakan ketahanan pangan, dan sebagainya,” kata Wakil Bupati Sleman, Dra Sri Muslimatun MKes di Sleman, Selasa (12/4).
Untuk itu Sri Muslimatun mengharapkan melalui program Keluarga Berencana, setiap keluarga mampu merencanakan keluarga dengan baik dan mengatur jumlah anak yang diinginkan.
Selain itu, katanya, program tersebut untuk mengatur jarak kelahiran dan memberi kesempatan ibu untuk terlibat dalam program peningkatan pemberdayaan perempuan dalam rangka meningkatkan kualitas kesejahteraan keluarga.
”Dengan mengikuti bina keluarga balita (BKB), setiap keluarga diharapkan mampu meningkatkan kemampuannya dalam membina anak balita sehingga anak-anak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal,” kata Sri Muslimatun.
Terlebih lagi, lanjutnya, masa balita disebut “golden periode”, yang merupakan periode paling kritis dalam menentukan kualitas anak karena saat itu proses tumbuh kembang berlangsung cepat.
Ia menjelaskan apabila tidak mendapat pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang dengan baik, anak akan mengalami gangguan dalam perkembangan emosi, sosial, dan kecerdasan.
Berbagai kegiatan pembangunan di bidang kesehatan di Kabupaten Sleman menunjukkan hasil yang menggembirakan. Berbagai program dan kegiatan mampu mendukung upaya peningkatan kesehatan masyarakat, rata-rata usia harapan hidup 76,13 tahun di atas rata-rata provinsi 73,62 tahun.
Angka kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup pada 2015 sebesar 3,61, turun dibandingkan dengan pada 2014 yang mencapai 4,65. Pada 2015 angka kematian ibu melahirkan sebesar 28,30 orang per 100.000 kelahiran hidup, turun dibandingkan dengan pada 2014 yang mencapai 83,29.
Kondisi persentase gizi buruk balita 0,40 persen turun dibandingkan dengan pada 2014 yang mencapai 0,44 persen dan persalinan yang ditangani oleh tenaga kesehatan pada 2015 sebesar 99,98 persen lebih baik daripada angka nasional.
Sri Muslimatun mengatakan pengembangan BKB di Sleman merupakan salah satu bagian untuk mewujudkan Kabupaten Sleman menuju layak anak.
”Melalui BKB itu masyarakat diajak memberikan kesempatan bagi anak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi sesuai amanat UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak,” tambah Sri Muslimatun.
Guna meningkatkan peran keluarga dalam membina balita, Pemkab Sleman tengah melaksanakan pembinaan kelompok kegiatan BKB yang jumlahnya saat ini mencapai 239 kelompok.
”Jumlah keluarga yang menjadi sasaran BKB, yaitu 11.530 keluarga dan sebanyak 9.005 mengikuti program KB dengan jumlah keluarga PUS 8.418, yang mengikuti KB 7.422 (88,3 persen),” katanya.
Dalam pengembangan balita yang berkualitas, pendidikan khususnya bagi anak-anak balita juga menjadi prioritas pembangunan di Kabupaten Sleman.
”Pendidikan yang dimaksud lebih diarahkan untuk mengasah ketrampilan motorik, sosialisasi kepada lingkungan, dan penanaman budi pekerti. Pemberian pendidikan tersebut dilakukan melalui pengembangan PAUD dan TK, saat ini di Sleman terdapat 290 PAUD dan 553 TK,” tuturnya.


