Animo Perajin Geluti Eco Batik Tinggi

Sleman – Kalangan perajin batik di Kabupaten Sleman mulai dikenalkan dengan penggunaan bahan pewarna alam. Salah satu yang cukup gencar menyosialisasikan program eco batik ini adalah Edia Rahayuningsih, dosen Teknik Kimia UGM yang juga peneliti zat warna alam.

Dari riset yang dia lakukan, saat ini jumlah perajin batik berbahan pewarna alam masih minim. Di Sleman, jumlahnya tidak sampai lima persen dari total sekitar 550 perajin batik.

“Secara jumlah memang tidak banyak tapi sebenarnya animo perajin tinggi.  Karena itu pendampingan usaha dan dana apalagi tidak mudah merubah pola pikir yang berkaitan dengan nafkah,” kata Edia kepada wartawan di Sleman, Jumat (12/8).

Saat ini, kelompok peneliti zat warna alam UGM tengah melakukan riset terhadap sejumlah perajin batik di wilayah Sleman. Penelitian bersumber dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) senilai Rp 1,6 miliar ini diterapkan mulai dari tahap penanaman bahan baku pewarna alam, proses membuat batik hingga suplai.

Edia mengungkapkan, untuk penyediaan tanaman bahan baku rencananya dibuka lahan di daerah Kecamatan Minggir seluas 4 hektare. Sampai saat ini setidaknya sudah ada lima tanaman yang diteliti dan dikembangkan menjadi pewarna alam.

Diantaranya indigofera yang menghasilkan warna biru, tingi untuk produksi warna degradasi dari oranye hingga coklat, dan jawale untuk menciptakan warna dari tingkatan kuning lunak hingga hitam. Selain itu bisa digunakan tanaman tegeran untuk menghasilkan warna tingkatan kuning cerah sampai hijau, dan merbau yang memproduksi warna coklat.

“Kami berusaha membantu perajin membuat pewarna alam yang kompetitif dan praktis. Jika sukses, arahannya ke produksi skala massal,” imbuhnya.

Edia berharap pemerintah daerah bisa semakin berperan dalam pengembangan eco batik. Terlebih di Sleman sudah ada Peraturan Bupati yang mengatur tata kelola batik termasuk didalamnya mengenai eco batik.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi TP MM mengaku siap mendukung jika nantinya kluster perajin eco batik dijadikan eduwisata. Selain memberi pengetahuan kepada masyarakat tentang bahaya pencemaran lingkungan akibat pewarna sintetis, konsep eduwisata juga bisa mengedukasi konsumen pecinta batik.

image_pdfimage_print
Bagikan: