Museum Gempa Prof Sarwidi, Wisata Edukasi Kegempaan

Sleman – Masih ingat dengan peristiwa gempa tahun 2006 yang cukup dahsyat dengan ribuan korban jiwa dan ribuan bangunan hancur. Bermula dari peristiwa gempa bumi tersebut memunculkan ide Prof Dr Sarwidi salah seorang Pakar gempa UII untuk mendirikan Museum Gempa di tempat wisata Kaliurang Sleman atau tepatnya di Dusun Ngalangan Kaliurang Timur Hargobinangun Pakem Sleman.

‬”Museum gempa ini bisa dinikmati kalangan orangtua, mahasiswa, dan anak-anak. Mereka bisa menikmati museum sambil wisata di Kaliurang,” kata Prof dr Sarwidi ketika menerima rombongan kunjungan Dinas Pariwisata Provinsi DIY ke Museum Gempa, Rabu (31/8).

‪Dijelaskan Sarwidi, museum gempa diberi nama Museum Gempa Prof Sarwidi. Museum ini dilengkapi dengan alat peraga, film, permainan simulasi gempa dan terpadu dengan obyek wisata. ‬

‪Museum Gempa, kata Sarwidi, memberi pelajaran bagi generasi muda agar lebih akrab terhadap gempa. Sehingga ketika terjadi gempa beneran, sudah mengetahui bagaimana menyelamatkan diri. ‬

Karena lanjut Sarwidi, gempa bumi menjadi bencana alam yang tidak bisa dihindari masyarakat. Hanya saja yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat menyiapkan diri dalam menghadapi gempa. Di Museum Gempa Prof Dr Sarwidi masyarakat bisa mendapatkan wawasan dan ilmu pengetahuan tentang mitigasi bencana alam serta bangunan rumah rakyat tahan gempa (barrataga).‬

‪Di museum tersebut masyarakat bisa mendapat wawasan tentang seluk beluk gempa dan rumah tahan gempa untuk mengurangi korban jiwa. Museum Gempa memangh bisa digunakan untuk edukasi mengurangi resiko bencana. Sebab pada dasarnya diungkapkan Sarwidi bahwa gempa itu bukan musuh tapi sahabat manusia.

‪Museum gempa sudah tujuh tahun berdiri dan baru satu tahun berada di Dusun Ngalangan, Kaliurang Timur, Pakem, Sleman. Setelah bergabung dengan paket wisata di kawasan Kaliurang, jumlah pengunjung mulai mengalami peningkatan.‬

Gempa, lanjut Sarwidi, jangan dipandang dari sisi negatifnya saja. Tetapi ada sisi positifnya, sebab gempa merupakan salah satu cara bumi melepaskan diri energinya.

“Kalau tidak ada gempa, kemungkinan bumi ini bisa meledak dan bumi ini tidak bisa dihuni lagi. Jadi gempa itu tugasnya mulia, menyelamatkan bumi,” katanya.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata Provinsi DIY, Ir Aris Riyanta MSi mengatakan keberadaan museum gempa ini sangat bermanfaat bagi semua kalangan baik pelajar, mahasiswa maupun umum.

Menurut Aris, agar lebih dikenal,  museum gempa harus bekerjasama dengan obyek wisata lainnya di kawasan Kaliurang. Seperti Museum Gunungapi Merapi (MGM), obyek wisata Kaliurang serta Merapi adventure.‬

‪”Pihak museum juga bisa berkolaborasi dengan travel agen dan tujuan wisata lainnya yang berada di satu kawasan. Museum ini satu-satunya di Indonesia sehingga sudah menjadi sesuatu yang unik dan berbeda. Hal tersebut menjadi selling point atau daya pikat tersendiri,” kata Aris

‪”Museum gempa Prof Dr Sarwidi buka setiap Selasa hingga Minggu mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Pengunjung cukup membayar uang retribusi sebesar Rp 5.000 per orang dan bisa mendapat banyak pengetahuan tentang bencana gempa,” kata Pengelola Museum Bidang Perencaan,  Dwi Santoso.

image_pdfimage_print
Bagikan: