Sleman – Jumlah pengangguran di Kabupaten Sleman termasuk paling banyak di antara kabupaten/kota lainnya di wilayah DIY. Berdasar data, di Kabupaten Sleman tercatat ada sedikitnya 35.059 orang penganggur dari 541.921 angkatan kerja pada tahun 2013.
“Tidak semua faktor tingginya angka pengangguran berasal dari internal Kabupaten Sleman. Ada juga faktor eksternal akibat tingginya mobilitas penduduk,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sleman, Drs Untoro Budiharjo, di kantornya, Rabu (7/5).
Ia menambahkan, dikatakan tertinggi karena warga Sleman jumlahnya paling banyak di antara Kabupaten/Kota di DIY. Demikian juga dengan jumlah pendatang, termasuk kalangan akademisinya.
Meski demikian, Untoro menyebut bahwa pengangguran yang ada tergolong penganggur terdidik. Sebab, sebagian besar merupakan lulusan perguruan tinggi.
“Selain itu, meski tercatat sebagai warga Kabupaten Sleman, tapi hanya memiliki kartu identitas sementara. Tapi memang banyak juga pendatang yang menetap,” imbuh Untoro.
Menurutnya, tinggi rendahnya pengangguran juga dipengaruhi kriteria dan teknik pengambilan sampel dalam survei serta waktu pendataan. Angka pengangguran berada di titik tertinggi jika sampel diambil antara Agustus-September. Sebab, saat itu banyak sarjana lulusan baru dari perguruan tinggi.
“Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) dengan dinas pun kadang berbeda,” kata Untoro.
Berdasar data BPS, persentase tingkat pengangguran dibagi angkatan kerja, berturut-turut pada 2011 sebesar 5,25 persen, 2012 (5,42 persen), dan 2013 (3,8 persen). Hasil itu jauh lebih rendah dari data Pemkab Sleman, yakni 2011 (7,61 persen), 2012 (6,74 persen), dan 2013 (6,47 persen).
“Mayoritas penganggur berpendidikan SMA, diploma dan sarjana (S1) dengan usia produktif 18-35 tahun,” tambah Untoro.


