Sleman – Dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) diperlukan upaya peningkatan kesehatan. Wakil Bupati Sleman, Dra Hj Sri Muslimatun Mkes mengatakan AKI terjadi akibat komplikasi pada saat persalinan sehingga dapat menimbulkan konsekuensi yang sangat serius.
”Penyebab langsung kematian maternal yang umum terjadi adalah pendarahan, eklamasi dan infeksi,” kata Sri Muslimatun di sela-sela Sarasehan Percepatan Penurunan Kematian Ibu dan Anak di Aula A Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Selasa (18/10).
Menurut Muslimatun, sebagai upaya preventif, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melalui Dinas Kesehatan secara rutin melakukan pemantauan ibu hamil dengan faktor resiko dan Ibu Hamil Faktor Resiko Tinggi melalui Peta Ibu Hamil di 1212 dusun di Kabupaten Sleman.
“Upaya penurunan AKI ini juga didukung peran serta aktif masyarakat melalui Gerakan Sayang Ibu dan Implementasi Desa Siaga serta Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dengan mengoptimalkan SMS gateway untuk memastikan Ibu hamil mendapatkan pertolongan persalinan yang cepat, aman dan efektif,” kata Sri Muslimatun.
Sedangkan bagi ibu hamil dan nifas yang tidak memiliki jaminan kesehatan lanjutnya, Pemkab Sleman juga memfasilitasi jaminannya melalui Program GARBA yang diampu oleh Jamkesos Provinsi.
”Upaya kesehatan yang diberikan diantaranya dengan Penguatan Puskesmas PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Dasar) dan Rumah Sakit PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Komprehensif). Untuk memberikan kesadaran tentang pentingnya pertolongan persalinan oleh tenaga professional, Pemkab Sleman juga menyelenggarakan Kelas Ibu Hamil di 25 Puskesmas di seluruh Kabupaten Sleman,” tambah Sri Muslimatun.
Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, dr Mafilindati Nuraini MKes menjelaskan sarasehan yang diikuti oleh 26 Rumah sakit/klinik pratama dan 6 puskesmas se Kabupaten Sleman tersebut adalah untuk mencari solusi bersama untuk percepatan dan mempertahankan penurunan AKI dan AKB.
Berdasarkan data, AKI dan AKB di Kabupaten Sleman sudah lebih baik dari target angka secara nasional. Tahun 2015 tercatat bayi lahir hidup 14.134 dan kematian bayi lahir 51 atau sebesar 3,61%. Hal ini tentunya cenderung berkurang dari tahun 2014 dimana bayi lahir hidup sejumlah 14.406 dengan jumlah kematian bayi 67 atau sebesar 4,65%.
”Sejalan dengan SDGs pada 2030 bertujuan untuk mengurangi angka kematian ibu hingga dibawah 70 per 100.000 kelahiran hidup dan mengakhri kematian bayi dan balita yang dapat dicegah denganberusaha menurunkan Angka Kematian Neonatal setidaknya hingga 12 per 1.000 KH dan Angka Kematian Balita 25 per 1.000 KH,” jelas Linda.


