Sleman – Kepala Dinas Sumber Daya Air, Energi dan Mineral (SDAEM) Kabupaten Sleman, Ir Sapto Winarno mengatakan pihaknya telah mendesak seluruh pangkalan di wilayah Sleman tidak menjual elpiji khususnya ukuran tiga kilogram melebihi harga eceran tertinggi atau HET Rp15.500.
“Kami sudah membuat kesepakatan dengan para pemilik pangkalan agar mematuhi aturan HET. Jika ada pangkalan yang melanggar ketentuan tersebut dan menjual elpiji tiga kilogram di atas HET, maka kami akan langsung memberikan sanksi tegas,” kata Sapto, Selasa (18/10).
Dikatakan Sapto, sebenarnya kuota gas elpiji tiga kilogram untuk wilayah Sleman sebanyak 34.934 tabung per hari sudah mencukupi kebutuhan masyarakat.
”Kuota itu sebenarnya mencukupi kebutuhan masyarakat, tetapi kenapa ada keluhan kelangkaan elpiji tiga kilogram di masyarakat. Ini mengindikasikan ada masalah dalam distribusi hingga ke masyarakat,” kata Sapto.
Kelangkaan elpiji tiga kilogram di Kabupaten Sleman terjadi sejak akhir September atau awal Oktober ini. Sejak gas hilang di pasaran, warga kesulitan mendapatkannya.
Ditengarai celah tersebut dimanfaatkan oleh oknum pangkalan dan pengecer dengan menaikan harga elpiji tiga kilogram dari harga normal. Bahkan, harga eceran elpiji tiga kilogram di beberapa wilayah seperti Condongcatur dan Maguwoharjo, Depok mencapai Rp 25.000 per tabung.
Akibat kesulitan mendapatkan gas 3kg, beberapa warga terpaksa membeli gas isi 5,5 kilogram atau nonsubsidi dan harga jualnya pun lebih mahal. Tidak hanya membeli gas nonsubsidi isi 5,5 kilogram, warga juga bisa menukar tabung elpiji tiga kilogram dengan isi 5,5 kilogram. Warga yang memiliki dua tabung gas tiga kilogram dapat menukarnya dengan isi 5,5 kilogram.
”Tukar dua tabung gas `melon` dengan gas isi 5,5 kilogram, itupun harus menambah biaya Rp102.000. Ada juga yang tukar tambah sampai Rp2 00.000 lebih,” kata salah seorang warga Ngaglik Sleman.


