Hadapi MEA Perlu Diimbangi Kemampuan Tertentu

Sleman – Di akhir tahun 2015 lalu  memasuki era perdagangan bebas yang populer disebut  MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Pertarungan interaksi antar pelaku ekonomi dunia kerja di negara-negara ASEAN menjadi semakin memiliki peluang dan tantangan yang lebih besar. Indonesia menjadi tujuan pasar terbesar sebagai pusat perputaran ekonomi.

“Menghadapi MEA, memiliki pengetahuan dan keahlian saja tidaklah cukup, apabila tanpa diimbangi dengan kemampuan-kemampuan tertentu. Selain kemampuan teknis dan keahlian, kemampuan mendasar yang harus dimiliki oleh pelaku bisnis dan tenaga kerja adalah berbahasa Inggris, karena bahasa Inggrislah yang digunakan dalam dunia transaksional antar perdagangan global,” Dra Hj Sri Muslimatun MKes,  Wakil Bupati Sleman disela-sela  penutupan Kegiatan penguatan Bahasa Inggris Gelombang I kerjasama MAN Jogja III-FEE Center di Desa Wisata Pulesari Turi, Kamis (3/11).

Disampaikan Sri Muslimatun bahwa  jangan menjadi penonton dalam kancah MEA. Jika sudah mampu berbahasa Inggris dalam menghadapi MEA, maka  akan mampu, tak hanya sebagai tenaga kerja yang berdaya saing, tapi juga menjual produk lokal, mengingat produk UMKM di Sleman juga sangat bagus dan beragam. Istilah-istilah yang digunakan dalam teknologi informasi juga hampir semua berbahasa Inggris.

Terkait dengan itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman memiliki visi menjadikan Sleman sebagai Smart Regency di tahun 2021 yang perintisannya dimulai dari sekarang.

Penerapan konsep smart regency harus dimulai dengan membangun kualitas manusia, terutama melalui aspek pendidikan. Jika masyarakat sudah melek teknologi, yang didukung kemampuan berbahasa Inggris, lalu didukung dengan pengembangan program yang lebih komprehensif mulai dari bidang infrastruktur, pelayanan, hingga lingkungan, maka hal tersebut akan membawa Sleman menjadi sebuah “kabupaten cerdas” atau smart regency.

Sedangkan Kepala MAN Jogja III Nurwahyudi Al-Azis menyampaikan bahwa kegiatan kegiataan pelatihan tersebut sudah berlangsung yang keenam kalinya dan bekerjasamaa dengan FEE Center Pare Kediri Jawa Timur.

Pelaksanaan pelatihan gelombang I berlangsung tanggal 28 Okotober – 3 November 2016 dan gelombang II akan berlangsung tanggal 4-10 November 2016 di Desa Wisata Pulesari Turi.

Sementara Direktur Fee Center Pare Kediri, Abdul Malik menyampaikan bahwa di Pare Kediri memang ada Kampung Inggris dengan kegiatan melakukan pelatihan dan pembinaan Bahasa Inggris bukan saja dari Indonesia saja tetapi juga dari Luar Negeri seperti Bruney Darussalam.

Ditambahkan pula di Kampung Inggris Pare tersebut yang dilakukan bukan hanya bahasa Inggris saja tetapi juga pembinaan Agama, dan di Kampung Inggris Pare tersebut sudah menjadi layaknya Kampung Religi, dimana nuansa keagamaannya sangat kuat, hal tersebut agar peserta pelatihan tidak hanya bisa berbahasa Inggris tetapi juga mempunyai aklak yang mulia.

image_pdfimage_print
Bagikan: