SlemanĀ – Bertempat di bantaran sungai Kuning, Sempu, Desa Wedomartani,Kec.Ngemplak, Kab.Sleman, sejumlah mahasiswa berbagai perguruan tinggi di DIY yang tergabung dalam Sekber Mahasiswa Pecinta Alam (mapala) Devisi Konservasi bekerjasama dengan Komunitas Pelestari Sungai Kuning, Jogja, melakukan aksi tanam bibit pohon gayam, Minggu (4/12) pagi.
Aksi tersebut berlatar keprihatinan atas banyaknya sejumlah tebing bahkan bantaran sungai yg rawan longsor akibat penambangan pasir liar ug marak terjadi di Sungai Kuning.
“Dengan terus terjadinya penambangan pasir yg juga nengeruk tebing sungai, maka sejumlah pohon juga ikut ditebang, bahkan hilang,” tegas Ketua Komunitas Pelestari Jali Kuning Jogja, Yudi Sunyoto.
Yudi menyatakan, beragam vegetasi di pinggir sungai yg berfungsi sebagai penahan longsor dan erosi, kini banyak hilang. Jarak bibir sungai dengan permukiman pun, kian dekat. Sehingga dikhawatirkan, jika terjadi banjir kecil saja, aliran sungai akan masuk ke permukiman warga di Perumahan Puridomas, yang berbatasan langsung dengan sungai Kuning.
Aktivitas penambangan pasir di Sungai Kuning Jogja memang kian marak. Meski dilakukan manual namun kerusakannya sangat masif. Tak hanya pasir di tengah sungai yang dikeruk, bibir dan tebing sungai pun mulai banyak yang dijarah untuk diambil pasirnya.
Menurut informasi dari Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) Tri Bayu Adji, pihaknya selama ini belum pernah mengeluarkan rekomendasi terkait penambangan pasir di Sungai Kuning, Jogja.
“Meski sudah diberi papan peringatan batas sempadan sungai, hingga peringatan larangan menambang & penolakan oleh warga terkait penambangan pasir. Bahkan pernah dilakukan sidak oleh aparat, para penambang rupanya tak peduli, dan kini kian nekat membabat tebing juga,” tegas Yudi.
Aksi tanam pohon yang dilakukan sejumlah mapala tersebut, sebagai upaya menyelamatkan bantaran sungai dari kerusakan yang lebih parah. Koordinator Sekber Mapala Divisi Konservasi DIY Pipit Noviyani mengungkapkan, aksi ini sebagai upaya keterlibatan langsung mapala dalam menyelamatkan lingkungan. Tercatat ada sekitar 27 mapala di DIY yang terlibat dalam aksi di Sungai Kuning.
“Kami mengangkat tema Bakti Kali untuk Bumi. Pola yang dilakukan adalah adopsi pohon. Jadi tiap mapala yang ikut menanam, punya tanggingjawab pula merawat & memelihara hingga tumbuh besar,” terang Pipit.
Sebelumnya, pada Sabtu (3/12/2016) malam, betempat di pinggir Sungai Kuning, Sempu, dengan berkemah dengan tenda-tenda, dilakukan sarasehan tentang pentingnya melakukan konservasi di pinggir sungai. Khususnya menanam pohon yang mampu menyimpan air. Sehingga keberadaan mata air di pinggir sungai terus terjaga.
Turut hadir sebagai narasumber dalam sarasehan malam itu, Kasie Pengendalian Pencemaran BLH DIY Reni Anggraeni dan Ketua Komunitas Tarub,Jogja Kamaludin.
“Menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menanam pohon memang tak mudah. Maka, harus dimulai dari diri sendiri dulu. Mari melakukan konservasi pada diri kita dulu. Dengan cintai dan rawat pohon-pohon di sekeliling kita,” ajak Bang Udin, sapaan akrab Kamaludin.


