Sleman – Untuk mencegah penyebaran virus antraks, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman melakukan antisipasi. Antisipasi tersebut dilakukan menyusul munculnya kasus penyakit antraks yang menyerang warga Kulonprogo. Dan bentuk antisipasi dari Pemkab Sleman tersebut antara lain melakukan vaksinasi dan membatasi penjualan daging sapi asal Kulonprogo ke Sleman.
Bupati Sleman, Drs H Sri Purnomo MSI mengatakan, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Pertanian Pangan dan Kehutanan (DPPK) Sleman menyikapi masalah penyakit antraks. Salah satunya, dengan mengawasi distribusi daging sapi yang beredar di Sleman.
“Kami akan mencegah (penyebaran) antraks masuk ke Sleman. Instansi terkait sudah melakukan beberapa upaya pengawasan,” kata Sri Purnomo, Minggu (22/1).
Menurut Sri Purnomo, wilayah Sleman belum pernah ditemukan kasus antraks. Meski begitu, upaya pencegahan penyakit tersebut, terus dilakukan. Pasalnya, infeksi virus antraks dinilai membahayakan manusia.
“Setiap tahun kami lakukan vaksinasi kepada sapi-sapi yang ada di Sleman. Termasuk saat ini, meski tidak semuanya. Jumlah sapi di Sleman sekitar 50.000 ekor, jadi yang divaksinasi hanya yang diduga berpotensi terjangkit antraks,” kata Ir Widi Sutikno MSi, Kepala DPPK Sleman.
Selain vaksinasi dikatakan Widi, DPPK juga berupaya mencegah peredaran daging sapi asal Kulonprogo. Pihaknya juga menambah jumlah petugas kesehatan hewan di lapangan untuk meningkatkan pengawasan, baik di pasar tradisional maupun pasar hewan.
“Pencegahan peredaran daging sapi dari Kulonprogo ini dilakukan arinya bukan anti Kulonprogo. Tapi ini dilakukan demi kebaikan bersama. Kami sudah bekerjasama dengan Balai Besar Veteriner Wates untuk memantau antraks,” kata Widi.
Menurut Widi, yang paling penting dari persoalan antraks adalah bagaimana masyarakat juga berupaya melakukan tindakan pencegahan. DPPK juga akan melakukan sosialisasi pada masyarakat.
Dikatakan Widi, awal mula kasus antraks di Kulonprogo terjadi akibat kondisi lingkungan yang menyebabkan munculnya virus antraks. Pasalnya, ternak yang terjangkit antraks disembelih kemudian dikonsumsi bersama.
“Sapi yang sakit seharusnya ditangani secara medis. Bukan justru dikonsumsi tanpa diketahui lebih dulu penyakitnya. Kami himbau agar masyarakat atau peternak yang sapinya sakit, tolong melapor agar bisa ditangani secepatnya,” tutur Widi.
Di wilayah Sleman, tambah Widi, fasilitas kesehatan hewan untuk memantau kesehatan ternak sudah cukup memadai. Setidaknya terdapat 14 Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) yang tersebar di Sleman yang dinilainya mampu memberikan vaksin antraks pada sapi.


