Pembentukan Karakter Anak Dipengaruhi Oleh 3 Faktor

Bupati Sleman Berikan PengarahanSleman – Setelah sebelumnya diadakan pembinaan Penguatan Pendidikan Karakter bagi Kepala SMA/SMK di Gedung Serbaguna Sleman, dilakukan lagi Penguatan Pendidikan Karakter bagi sekitar 300 peserta dari Kepala SMP/MTS serta Ketua Komite, Rabu (8/2). 

Kepala Dinas Pendidikan Sleman Arif Haryono, SH menyampaikan maraknya tindak kriminalitas di DIY yang dilakukan pelajar mendorong semua pihak untuk peduli dan mencari solusi agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Arif memandang perlu upaya untuk mengembangkan kecerdasan afektif sama pentignya dengan pengembangan intelektual, selain akademik juga perlu penguatan pendidikan karakter.

Untuk itu Arif Haryono mengharapkan Komite Sekolah sebagai mitra sekolah memiliki peran penting dalam membantu sekolah dengan bersinergi dalam pengembangan karakter anak-anak sekolah.Bertindak sebagai nara sumber Bupati Sleman Drs. H. Sri Purnomo, MSI dan Kapolres Sleman AKBP. Burkhan Rudi Satrio.

Bupati Sleman dalam kesempatan ini menyampaikan kondisi kenakalan remaja saat ini memang menjadi keprihatinan sehingga diharapkan dengan adanya kegiatan ini dapat menjadi jawaban atas permasalahan dan kenakalan remaja dapat tertangani.

Lebih Lanjut Sri Purnomo mengatakan ada tiga hal yang terlibat dalam pembentukan perilaku anak-anak yaitu orang tua, sekolah dan lingkungan. Apabila salah satu dari tiga hal tersebut tidak berfungsi dengan baik maka salah satu dampaknya adalah munculnya kenakalan remaja. Orang tua bertanggungjawab terhadap pembentukan karakter dan pendidikan anak-anak ketika berada di rumah.

Banyak orang tua sekarang yang terlalu sibuk bekerja sehingga perhatian kepada anak menjadi berkurang. Mereka mengumbar berbagai fasilitas untuk anak mereka tanpa adanya kontrol sehingga terkadang hal tersebut justru menjerumuskan anak ke dalam kenakalan.

Pembentukan karakter anak selanjutnya dipengaruhi oleh sekolah dalam hal ini yang memiliki peran penting adalah guru. Tidak mudah memang untuk menjadi guru yang ideal, namun selayaknya cita-cita untuk menjadi guru didasari oleh sebuah idealisme yang luhur, untuk menciptakan para remaja sebagai generasi penerus yang berkualitas.

Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah kondisi lingkungan pergaulan. Menciptakan lingkungan pergaulan yang kondusif ini menjadi tanggung jawab bersama.

Peran Lingkungan pun harus lebih peduli, dengan menganggap para remaja yang ada di lingkungannya adalah tanggung jawab bersama, tentunya lingkungan pun akan dapat memberikan informasi yang benar kepada orang tua tentang tindak tanduk si remaja tersebut dan kemudian dapat digunakan untuk mengevaluasi perkembangannya agar tidak terjebak dalam kenakalan remaja.

Tak kalah penting untuk diperhatikan adalah perkembangan teknologi informasi saat ini. Teknologi informasi membawa banyak manfaat, namun ternyata juga membawa pengaruh negatif. Apalagi anak-anak sudah dengan bebas dan mudahnya mengakses informasi melalui dunia maya.

Jika tanpa pengawasan orang tua, guru dan tanpa kepedulian masyarakat, akan mengakibatkan terjadinya kenakalan anak. Bupati berpesan kepada para Kepala Sekolah untuk tingkat SMK agar dapat melakukan inovasi dan evaluasi terhadap sarana dan prasarana praktek sekolah, Karena SMK diharapkan dapat menyiapkan siswa lulus siap kerja dan bersaing baik di negeri sendiri maupun di luar negeri.

Hal ini karena saat ini sudah dimulai persaingan tenaga kerja dengan maraknya tenaga kerja asing masuk ke Indonesia. Selanjutnya bagi Kepala Sekolah SMA agar dapat menyiapkan siswanya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Jangan kuatir bagi siswa yang kurang mampu bila prestasinya bagus banyak biasiswa yang telah disiapkan oleh Pemerintah maupun swasta yang peduli terhadap pendidikan.

Sementara itu Kapolres Sleman memaparkan penanganan masalah kriminalitas Pelajar. Kapolres menyebut kriminalitas karena tindakan pelajar saat ini sudah bukan lagi kenakalan remaja karena sudah merupakan tindakan kriminal mengingat para pelajar bertindak bukan dengan tangan kosong lagii tetapi sudah menggunakan senjata tajam  yagn bertujuan untuk melukai orang lain.

Kejadian yang terjadi di DIY sampai dengan akhir November kemarin 43 kasus dan di Sleman mencapai 21 kasus. Polres Sleman berupaya membatasi gerak dengan menempatkan 2 anggotanya disekolah-sekolah yang dicurigaisebagai pemicu pada saat pulang sekolah dan melakukan operasi dititik-titik kumpul. Dan untuk menimbulkan efek jera terhadap pelanggar hukum bila ancaman hukuman di atas 7 tahun pelaku langsung ditahan dan diproses secara hukum.

Saat ini ada 14 anak yang di tahan di Polsek Pakem, Turi dan Gamping. Tindakan tegas ini memang banyak mendapat tantangan dari berbagai pihak namun bagaimanapun hukum harus ditegakkan dan terbukti saat ini sudah menurun tingkat kriminalitas pelajar.

Kapolres juga memaparkan latar belakang anak yang melakukan tindak kriminal kebanyakan dipengaruhi oleh faktor keluarga yakni kurangya perhatian dari orang tua, adanya kekerasan terhadap anak, dan ketidak harmonisan hubungan orang tua/broken home.

image_pdfimage_print
Bagikan: