Sleman – Bertekad untuk menjaga kebudayaan Jawa dari kepunahan, Ratri Solikhah memulai usahanya sebagai pengrajin blangkon. Usaha yang dijalani bersama suaminya, Ari Pambudi, ia mulai sejak lima tahun lalu.
“Saya mulai usaha setelah dua tahun menikah. Selain meneruskan bisnis bapak juga untuk nguri-uri kabudayan (melestarikan kebudayaan-red),” cerita wanita yang akrab disapa Ratri saat ditemui Selasa (23/5).
Ratri pun menjelaskan tentang kelebihan blangkon buatan suaminya dibandingkan blangkon-blangkon lain.
“Dalamnya kapas, lebih halus, dan dilipat satu per satu,” tutur Ratri.
Ini berbeda dengan blangkon lain yang menurut Ratri kadang masih menggunakan tikar mendong untuk bagian dalamnya. Keunggulan lain dari blangkon produksi Ratri adalah bisa dipesan sesuai order.
“Di rumah bisa bikin blangkon Solo, blangkon model Sunda, blangkon model Jawa Timuran juga bisa, belum lama ini juga diminta bikin blangkon Sumatera pakai songket gitu,” lanjut Ratri.
Pembeli juga bisa langsung datang ke rumah dan mengukur ukuran blangkon pesanannya. Wanita yang sebelumnya pernah bekerja sebagai karyawan swasta ini mengaku meski penjualan blangkon miliknya baru sekitar wilayah Sleman dan Yogyakarta, omset yang didapat terbilang lumayan.
“Untuk omsetnya setiap minggu itu kurang lebih ya 8 juta, itu paling banyak, kadang naik turun,” bocor Ratri.
Ratri berharap ke depannya usaha blangkon miliknya masih dapat terus berkembang. Apalagi mengingat sekarang, ia masih belum memaksimalkan berbagai channel pemasaran guna memasarkan produk buatannya tersebut. Hasil karya blangkon dari Ratri dan suaminya ini, bisa ditemui di Pameran Potensi Daerah Kabupaten Sleman, 18-26 Mei 2017.


