Sleman – Kepeduliannya pada lingkungan membawa gadis kelahiran tahun 1990 ini berinovasi pada kain kreasinya. Jika pengusaha lain menggunakan pewarna buatan sebagai bahan menggambar motif, ini berbeda dengan Hastin Solihah. Hastin yang peduli terhadap bagaimana pewarna kimia dapat mencemari lingkungan, berupaya melakukan penelitian satu tahun lamanya untuk mencari pewarna alami yang ramah lingkungan.
“Kalau enggak punya sumur limbah khusus untuk pewarna kimia itu nyerap langsung ke tanah jadi berpengaruh ke air sumurnya terus gimana caranya supaya terus berkarya dengan pewarna yang alami,” cerita Hastin.
Ditemui di kediamannya di Padukuhan Jangkang, Nogotirto, Gamping, Sleman, Selasa (14/11), Hastin membeberkan bahwa ia menggunakan teknik eco printing sebagai solusi dari permasalahan pencemaran lingkungan tersebut. Eco printing sendiri adalah salah satu teknik pengolahan kain yang menggunakan pewarna alam sebagai bahan untuk membuat motif.
“Jadi saya tidak menggunakan bahan kimia, motif-motifnya dibuat dari daun-daunan, jadi kalau bisa dilihat motifnya memang bentuknya natural daun, kemudian ada bunga, ada batang, ada akar juga,” urai wanita 27 tahun ini.
Untuk menghasilkan kain eco printing buatannya, ada beberapa proses yang harus dilalui. Pertama, kain harus dimurdan atau proses menghilangkan kanji di atas kain.
“Jadi kalau kita beli kain di pabrik kan masih ada campuran bahan kimia ya, ini direbus dulu atau direndam semalam dengan air tawas,” jelas Hastin.
Proses selanjutnya adalah mengumpulkan dedaunan. Hastin dan pekerja lepasnya menggunakan beragam daun, mulai dari daun jati, daun jarak, daun ketepeng, daun ekor kucing, daun lanang, kulit bawang bombay, kunyit, hingga secang sebagai motif kainnya.
Daun segar yang sudah terkumpul ini, kemudian ditempel di atas kain, dan digulung dengan cara dipress.
“Jadi gulungnya kalau bisa memang flat gitu supaya semakin manet (kuat-red) dengan kain warnanya akan semakin keluar dan tercetak di atas kainnya itu,” ungkap wanita lulusanInstitut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta jurusan tekstil ini.
Hastin melanjutkan bahwa usai digulung, kain direbus selama 1-2 jam lalu didiamkan semalam supaya semakin meresap dan paginya baru dibuka.
Kain eco printing karyanya, ia beri label Kaine, dan mulai ia produksi secara rutin awal tahun 2017 ini. Dengan kain selebar 2,5 meter per potong, Hastin mulanya memproduksi hanya lembaran kain bermotif daun saja. Namun, seiring perjalanannya, ia mulai menggunakan jasa rekanan penjahit untuk mengubah kainnya menjadi baju, scraft, maupun hijab.
Ia mematok harga yang bervariasi pada karyanya ini, tergantung pada komposisi warna dan bahan yang digunakan.
“Kalau potongan biasanya itu 2,5meter ya Rp 400 ribu-350 ribu. Kalau jilbab untuk yang square jilbab biasa itu Rp 100 ribu, itu kan bahannya katun atau paris, kalau sutra Rp 400 ribu, tergantung juga dari kainnya, kainnya yang dipakai ada katun primisima, ada sutra, kain-kain yang memiliki serat alam,” tutur Hastin.
Pameran menjadi salah satu cara Hastin bertemu dengan konsumennya.
“Jadi ikut di Dinas Perindustrian dan Perdagangan, itu suka ada fasilitas pameran. Nah, dari situ saya juga mendapatkan costumer,” lengkap Hastin.
Selain itu, ia juga memilih media sosial Instagram untuk memperluas pangsa pasarnya. Melalui kedua model pemasaran ini, konsumen Hastin pun tersebar tak hanya di Indonesia tetapi hingga luar negeri seperti Singapura dan Jepang.
Omzet yang didapatnya pun terbilang cukup besar untuk usaha yang baru saja ia mulai, yakni sekitar Rp 4-5 juta per bulan. Omzet ini bisa bertambah apabila Hastin mengikuti pameran. Sebab, ia akan menambah stock produksinya tidak hanya 20 kain, seperti yang ia hasilnya tiap minggunya.
Hastin meyakini bahwa usahanya akan terus berkembang. Oleh karena itu, ke depan Hastin terus melakukan penelitian terhadap daun-daun lain yang kiranya mengandung zat tanin sehingga bisa menjadi motif baru di kain buatannya.


