Sleman – Keripik Pare, Keripik Terong, Keripik Seledri, dan Keripik Bayam, hanya beberapa dari 32 jenis keripik yang berhasil diproduksi Sri Endah Kurniawati, warga Sorogenen, Kalasan, Sleman. Industri rumahan yang dimulai Endah dari tahun 2000 ini, mulanya hanya memproduksi 2 jenis keripik saja, yakni keripik bayam dan keripik emping jagung. Namun, seiring berjalannya waktu dengan melihat animo masyarakat pada produknya, kini 32 produk keripik aktif Endah produksi tiap harinya.
Endah menuturkan, ke-32 keripik buatannya ini hanya memiliki dua rasa, yakni original dan pedas meski dulunya memiliki rasa yang beragam.
“Dulu ada rasa balado, keju, tapi kurang bagus penjualannya, yang paling bagus hanya mercon atau pedas sama original saja,” tutur Endah.
Selain rasa, Endah juga mengamati soal jenis sayuran yang paling diminati oleh para pembeli.
“Sementara ini, penjualan tertinggi ada di pare mercon dan tiram mercon,” kata Endah.
Pembeli yang rata-rata adalah mahasiswa ini dapat menemukan produk keripik dari Endah dengan sangat mudah karena Endah menjualnya melalui banyak supermarket di Yogyakarta.
“Sekarang sudah ada di 50 supermarket,” tutur wanita kelahiran 4 Oktober 1970 ini.
Untuk memenuhi permintaan dari 50 supermarket ini, Endah memperkerjakan 3 karyawan. Setiap harinya, ia dan ketiga karyawan akan mengolah 20 kg bahan baku.
“Sehari rata-rata 20 kg, itu macam-macam bahan baku tapi kalau yang selalu memproduksi setiap hari ya pare dan jamur,” jelas Endah.
Endah menjual satu kemasan keripik seberat 140gram dengan harga berkisar antara 6 ribu hingga 11 ribu rupiah. Dengan harga ini, omzet yang diperoleh Endah tiap bulannya bisa mencapai 30-50 juta rupiah.
Meski omzet yang ia dapatkan terbilang cukup besar, Endah tetap sadar bahwa usahanya memiliki banyak kompetitor. Namun, Endah memiliki trik sendiri untuk menjadikan produk buatannya tetap favorit di mata pembeli.
“Pertama, kita konsisten, kalau toko itu asal kita konsisten itu jalan terus,” beber Endah.
Selain itu, Endah juga memperhatikan kualitas dan juga kuantitas dari produknya.
“Kualitas harus kita jaga terus, bahan baku enggak sembarangan. Selain itu, jumlahnya harus terpenuhi,” lanjut Endah.
Dengan ketiga trik ini, Endah mampu meluaskan pasarnya hingga ke kota-kota besar di Indonesia.
“Pembeli sampai Padang yang paling jauh kemarin belum lama, Jakarta, Kalau saya habis pameran biasanya punya costumer dari Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya. Itu sampai sekarang masih jalan,” terang Endah.
Ke depan ibu dari dua putri ini masih ingin terus menambah jenis keripik yang ia produksi. Utamanya karena ia juga ingin menggunakan bahan baku dari para petani yang ada di daerahnya.
“Nanti bisa wortel, itu yang mudah didapat, bahan baku tidak kesulitan karena banyak supplier di sini,” ungkap Endah.


