Disbudpar Sleman Sambut Positif Tata Rias Tradisional

Sleman – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbidpar) Kabupaten Sleman, Ir AA Ayu Laksmidewi sangat menyambut positif keberadaan salon maupun sanggar-sanggar rias pengantin tradisional Yogyakarta. Disebutkan keberadaan mereka secara langsung telah menjadi propaganda positif terhadap upaya pelestarian produk budaya luhur Keraton Yogyakarta.

“Meningkatnya minat calon pengantin untuk dirias secara tradisional gaya Jogja terutama Paes Ageng memberikan sisi positif bagi pengembangan dan pelestarian Budaya Jogja, termasuk Sleman di dalamnya,” ungkap Ayu dikantornya, Jumat (6/2).

Menurutnya, ini menunjukkan adanya pemahaman tentang nilai-nilai luhur budaya di balik rangkaian Paes Ageng dengan dukungan teknologi kecantikan sehingga mampu menjanjikan hasil riasan yang indah. Selain itu Ayu juga menyebut riasan Paes Ageng sebagai media kaum muda atau calon pengantin untuk memupuk kebanggaan terhadap Budaya Jogja di tengah tawaran rias pengantin versi lainnya.

“Paes Ageng dapat menjadi media pembelajaran dan memupuk rasa handarbeni terhadap Budaya Jawa di tengah arus globalisasi. Dengan begitu sekaligus akan dapat memperkuat jati diri insan Jogja yang Istimewa,” tambahnya.

Pertumbuhan jumlah perias pengantin tradisional Paes Ageng tercatat cukup menggembirakan di wilayah Sleman. Berjumlah lebih kurang 60 perias yang tergabung dalam DPC Harpi Melati Kabupaten Sleman, di samping ada beberapa perias secara individu. 

Terkait hal itu, Disbudpar Kabupaten Sleman sebagai institusi pembina menghimbau agar dalam menjalankan usahanya para perias melengkapi dirinya dengan Izin Usaha Pariwisata yang dapat diurus dengan mudah di kantor Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu.

Selain itu Ayu juga menitip pesan agar setiap perias mampu menjaga nilai-nilai tradisional yang tersirat dari tata rias tersebut. Baik dari pakem riasan maupun materi bahan yang digunakannya. Di tengah gempuran tren tata rias pengantin versi modern, keberadaan gaya rias tradisional Jogja terutama Paes Ageng ternyata tetap mampu bertahan, bahkan semakin banyak diminati masyarakat.

Disebutkan, makna filosofi dan aura kecantikan yang terpancar dari tata rias khas Raja Jogja tersebut, menjadi alasan ketertarikan para calon pengantin. Fenomena itulah yang kemudian ditangkap oleh para perias pengantin di Yogyakarta dalam upaya mengembangkan bisnis riasnya.

Salah satu perias profesional yang kini sedang berkembang pesat di Jogja adalah Tri Widarti. Dengan ketekunannya belajar dan mencoba, ibu tiga anak ini telah sukses mengibarkan bendera Wiwied Kembar Salon miliknya menjadi pusat segala kebutuhan pernikahan, one stop wedding, dengan spesifikasi gaya Paes Ageng.

Segala kebutuhan dan perlengkapan pengantin, dari rias, busana, dokumentasi, hingga seluruh pernik perlengkapan hajatan seperti tarup, tersedia lengkap sesuai yang dibutuhkan. “Pelanggan tinggal pesan apa yang dibutuhkan, maka kami akan memenuhinya sesuai waktu yang disepakati,” tambahnya.

image_pdfimage_print
Bagikan: