BPBD Perluas Titik Pengungsian

Sleman – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman memperluas titik pengungsian yang digunakan saat terjadi bencana erupsi Gunung Merapi. Hal tersebut guna sebagai persiapan menghadapi letusan ekplosif dari gunung tersebut. Kepala  BPBD Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito SH MM mengatakan saat ini Sleman telah memiliki 35 titik pengungsian bencana erupsi Gunung Merapi. Di antaranya terdapat 12 titik berupa barak pengungsian yang dapat digunakan untuk menampung warga di wilayah terdampak.

“Dari titik-titik tersebut, selain lokasi pengungsian yang disediakan oleh pemerintah, terdapat juga lokasi pengungsian yang bekerja sama dengan pihak di luar pemerintahan. Seperti aula perkantoran dan rumah sakit,” kata Julisetiono, Minggu (12/4).

Menurut Julisetiono, jumlah titik pengungsian tersebut masih kurang jika dibandingkan dengan estimasi pengungsi yang diperkirakan mencapai 30 ribu jiwa. Pasalnya letusan eksplosif Gunung Merapi akan membawa dampak cukup luas bagi wilayah Sleman.

“Jika letusan bersifat efusif, jumlah ini masih mencukupi dengan estimasi pengungsi sebanyak 14 ribu hingga 15 ribu jiwa di tiga wilayah kecamatan, Cangkringan, Pakem, dan Turi. Untuk itu, saat ini kami terus menghitung kapasitas titi pengungsian yang ada, apakah sudah ideal atau perlu ditambah,” ungkapnya.

Ia menjelaskan 35 titik pengungsian yang sudah ada tersebut terbagi dalam beberapa tipe. Yakni titik pengungsian bergeser, setengah bergeser, dan tetap. Pemanfaatannya berdasarkan bencana erupsi yang sedang terjadi.

“Warga yang mengungsi akan diarahkan di titik aman yang paling dekat terlebih dahulu (pengungsian bergeser), kemudian evakuasi dilanjutkan ke lokasi pengungsian yang sudah ditentukan (pengungsian setengah bergeser). Namun jika erupsi yang terjadi lebih besar, maka akan evakuasi dilanjutkan ke titik yang lebih aman. Semua dilakukan berdasarkan prosedur yang sudah ditentukan dan masyarakat perlu memahaminya,” kata Julisetiono.

image_pdfimage_print
Bagikan: