Upacara Adat Kirab Ki Ageng Wonolelo

wonoleloSleman – Warga Dusun Wonolelo menggelar upacara adat dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo di Wonolelo, Ngemplak, Widodomartani, Sleman, Jumat (20/11). Kirab pusaka berawal dari Halaman Masjid Ki Ageng Wonolelo menuju makam Ki Ageng Wonolelo.

Ketua Panitia Saparan, Kawit Sudiyono menyampaikan prosesi upacara adat saparan tersebut diawali pada 7 November 2015 dengan pengajian akbar sebagai upaya meneruskan perjuangan Ki Ageng Wonolelo sebagai ulama besar dan penyebar agama Islam.

Dalam prosesi kirab pusaka ditampilkan semua pusaka peninggalan Ki Ageng Wonolelo, di antaranya kitab Suci Al Quran,Bandil, Baju Onto Kusuma, Kopyah, Tongkat, Potongan Kayu Mustoko Masjid dan tombak. Kirab Pusaka ini dimulai dari halaman Halaman Masjid Ki Ageng Wonolelo menuju makam Ki  Ageng Wonolelo.sejauh satu kilometer.

Ki Ageng Wonolelo sendiri mempunyai nama asli Jumadi Geno merupakan seorang keturunan Prabu Brawijaya V, sekaligus sebagai tokoh penyebar agama Islam pada masa kerajaan Mataram. Ia bermukim di Dusun Pondok Wonolelo dan dikenal  memiliki ilmu kebatinan yang tinggi pada masa itu.

Dikarenakan memiliki ilmu yang tinggi, ia pernah diutus Raja Mataram ke Kerajaan Sriwijaya di Palembang yang saat itu membangkan terhadap Mataram. Ia berhasil menaklukkan Kerajaan Sriwijaya yang kemudian membuat nama Ki Ageng Wonolelo atau Jumadi Geno semakin tersohor dari waktu ke waktu. Sehingga semakin banyak orang yang berdatangan untuk berguru kepadanya.

Sebagai seorang panutan yang memiliki ilmu tinggi, Ki Ageng Wonolelo banyak mewariskan berbagai peninggalan yang berupa tapak tilas dan pusaka dan benda keramat lainnya. Pusaka, jimat dan berbagai benda keramat peninggalan Ki Ageng Wonolelo inilah yang kemudian dikirabkan setiap bulan Sapar pada setiap tahunnya.

Menurut Kawit diselenggarakannya upacara adat Saparan dan Kirab Pusaka Ki Ageng Wonolelo untuk mendukung Yogyakarta dan khususnya Sleman sebagai daerah tujuan wisata. Disamping itu juga untuk mengajak generasi muda untuk menggali dan lebih memahami nilai-nilai seni budaya yang adiluhung.

Serta memberikan wahana bagi pertumbuhan kesenian rakyat serta menumbuhkan rasa handarbeni dan kecintaan terhadap seni budaya lokal. Terlebih dari itu juga dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat sebagai pelaku ekonomi selama kegiatan berlangsung.***

image_pdfimage_print
Bagikan: