Sleman – Guna memantau banjir lahar dari lereng Merapi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman tengah membangun pos pantau lahar di pinggir aliran Sungai Gendol.
“Pos pantau lahar ini difungsikan sebagai tempat stand by bagi relawan dan aparat saat kegiatan pemantauan aliran lahar dari hulu Sungai Gendol,” kata Kepala BPBD Sleman, Drs Julisetiono Dwi Wasito dikantornya, Rabu (20/1).
Menurut Julisetiono, bangunan pos pantau lahar tersebut dilengkapi sejumlah fasilitas penunjang seperti alat komunikasi, dan penangkal petir. “Ditargetkan, pos pantau Gendol sudah bisa beroperasi sekitar bulan Februari 2016 mendatang dan saat ini masih dalam tahap penyelesaian pembangunannya,” tutur Julisetiono.
Ditambahkan Julisetiono, pos pantau yang memiliki ketinggian seperti gardu pandang tersebut perlu diadakan karena relawan yang selama ini membantu Pemkab belum memiliki tempat yang representatif.
“Kami khawatir dengan keselamatan relawan. Selama ini mereka menjalankan tugas pemantauan dari lokasi yang dirasa belum aman,” imbuhnya.
Ke depan, pos pantau juga akan didirikan di lokasi sungai lain yang rawan mengalami banjir lahar. Rencana akan dibangun secara bertahap, dan untuk awal ini dipilih Sungai Gendol karena dirasa paling rawan.
Diungkapkan Julisetiono bahwa banjir lahar masih berpotensi terjadi mengingat masih ada sekitar 20 juta sisa material vulkanik di puncak Merapi. Sewaktu-waktu terjadi hujan deras, lahar dingin itu bisa melimpas ke bagian hilir.
“Selama musim hujan periode ini belum ada laporan kejadian banjir lahar. Meski demikian masyarakat tetap harus waspada terutama menjelang puncak penghujan,” kata Julisetiono.
Untuk memantau kondisi lahar, pihaknya telah memasang 14 unit early warning system (EWS) di beberapa sungai yang masuk kategori rawan seperti Boyong, Opak, dan Gendol.


