Sleman Targetkan Pengembangan Minapadi

Sleman – Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DP2K) Sleman terus mengembangkan pertanian dengan konsep minapadi. Saat ini, sudah ada sekitar 100 hektare lahan sawah yang dikelola dengan sistem minapadi. Arealnya tersebar di beberapa kecamatan antara lain Minggir, Seyegan, Godean, Mlati, Kalasan, Berbah dan Ngemplak.

“Kami targetkan luasannya terus bertambah tiap tahun. Sekarang sudah sekitar 100 hektare, harapannya tahun ini bisa meningkat,” kata Kepala DP2K Sleman, Ir Widi Sutikno MSi disela kegiatan panen raya mina padi Kelompok Tani Mina Rukun di Dusun Kuton, Desa Tegaltirto, Kecamatan Berbah, Selasa (2/8).

Selama ini, hasil budidaya minapadi cukup diminati konsumen. Ke depan, petani disarankan melengkapi kemasan produk dengan label supaya nilai jualnya bisa semakin terdongkrak. Widi menilai, beras hasil sistem minapadi cukup potensial dijual dengan harga tinggi. Sebab, produk itu tergolong hasil budidaya organik yang selama ini harganya di pasaran relatif tinggi.

“Kami harap petani bersedia memupuk lahan menggunakan pupuk kandang. Untuk pakan ikan pun sebaiknya dikurangi yang jenis pelet, alternatifnya diganti dengan cacing atau ganggang yang bisa tumbuh dengan penanaman pola jajar legawa,” terang Widi.

Diakui pengembangan pertanian minapadi bukan hal yang mudah. Mengingat, sistem itu hanya bisa diterapkan di lahan yang memiliki cukup ketersediaan air. Namun jika berhasil, petani bisa meraup keuntungan yang jumlahnya tidak sedikit.

Ketua kelompok Mina Rukun, Edi Sutanto mengungkapkan, keuntungan bersih yang diperoleh kelompoknya dari demplot seluas satu hektare diperkirakan sekitar Rp 50 juta. Hasil terbanyak berasal dari panenan ikan jenis nila merah yang diprediksi mencapai 3,9 ton. Sementara produksi beras jenis Inpari-30, rata-rata 6,8 ton per hektare. Angka itu lebih tinggi dari produksi beras rata-rata di Kecamatan Berbah yang hanya 6,5 ton.

“Minapadi ini peluang bisnis yang bagus. Diharapkan ke depannya bisa menarik minat anak muda untuk terjun ke bidang pertanian,” ujar Edi.

Agar petani semakin familiar dengan konsep minapadi, kelompoknya berencana mengembangkan di lahan ukuran kecil seluas kurang lebih 1.000 meter persegi. Di area yang minim, petani bisa mengembangkan lahan hanya dengan menggunakan peralatan cangkul.

Berdasar pengalamannya, penerapan minapadi terkendala dengan biaya sewa ekskavator untuk mengeruk lahan sawah. Karenanya dia berharap dinas mempunyai alat berat sendiri yang bisa diakses oleh petani.

Menjawab keluhan itu, Bupati Sleman Drs H Sri Purnomo MSi menerangkan, dinas sebenarnya memiliki ekskavator sebanyak dua unit yang merupakan bantuan dari bencana erupsi Merapi. Hanya saja, alat berat itu berukuran besar sehingga sulit digunakan untuk mengeruk lahan sawah yang sempit.

“Dari informasi yang saya terima, Kodim memiliki ekskavator ukuran kecil. Peralatan itu bisa dipinjam oleh petani karena pada prinsipnya program pengembangan minapadi ini dilakukan lintas sektor termasuk dengan pihak Kodim,” paparnya.

Jika program demplot sudah selesai, Sri Purnomo meminta petani untuk melanjutkan usahanya sendiri sehingga bisa terus berkesinambungan.

image_pdfimage_print
Bagikan: