Digagas, Wisata Edukasi Tetenger Merapi

Sleman – Tetenger erupsi Merapi di Dusun Bakalan, Desa Argomulyo, Kecamatan Cangkringan akan dikembangkan menjadi kawasan wisata edukasi. Untuk mencapai sasaran itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman telah menyiapkan rencana pengembangan lahan di sekitar lokasi tetenger.

“Kami akan upayakan membeli tanah di sekitar tetenger Merapi. Sekarang masih tahap negosiasi, jika semua proses sudah rampung akan segera dibangun area wisata edukasi,” kata Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata, Disbudpar Kabupaten Sleman Shavitri Nurmala Dewi, Selasa (7/9).

Pengembangan ini terutama menyasar lahan yang terletak di sisi barat. Di area ini masih terdapat sejumlah rumah yang terkena lahar saat kejadian erupsi Merapi 2010. Bekas bangunan itu akan dijadikan destinasi wisata edukasi tentang mitigasi bencana erupsi. Kehadiran spot wisata ini juga  diharapkan bisa menjadi pengingat bagi warga sekitar maupun pengunjung dari luar daerah tentang kedahsyatan letusan Gunung Merapi.

“Luapan laharnya sampai ke daerah Bakalan yang jaraknya belasan kilometer dari puncak Merapi. Ini setidaknya menggambarkan betapa dahyatnya bencana itu sehingga di masa mendatang bisa dilakukan langkah antisipasi,” kata Evi panggilan Shafitri.

Meski demikian lanjutnya, sampai saat ini pihaknya belum dapat memastikan waktu penyelesaian tahap negosiasi pembelian tanah. Objek tetenger erupsi Merapi 2010 sebelumnya telah diserahterimakan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) kepada Pemkab Sleman. Tujuannya untuk dijadikan wisata edukasi.

Sementara itu, Camat Cangkringan, Edy Harmana menilai perlu adanya intervensi pemerintah untuk mengembangkan potensi wisata di wilayah lereng Merapi.

“Banyak potensi yang ada di daerah ini yang bisa dijual ke wisatawan, tidak cuma tetenger. Contohnya di lokasi dekat tetenger itu ada bekas jalur lahar panas yang masih alami dan belum tersentuh aktivitas penambangan,” tutur Edy.

Namun sayangnya, sisa material erupsi yang terletak di Dusun Bakalan itu belum tertata dengan baik. Karenanya perlu kerjasama lintas sektor termasuk dengan Disbudpar Sleman dan  BPPTKG Jogja.

image_pdfimage_print
Bagikan: