Sleman – Sekelompok anak muda itu tampak sabar dan telaten mengajari anak-anak dan ibu-ibu rumah tangga memainkan suling bambu. Sesekali mereka tertawa lepas ketika suling yang ditiup hanya mengeluarkan suara angin tanpa bunyi, atau mengeluarkan nada yang fals.
Berlembar-lembar kertas bertuliskan not terhampar di tikar, di antaranya not lagu Perahu Layar, dan lagu sederhana Topi Saya Bundar. Sementara itu di belakang mereka, di panggung utama, sekelompok remaja dari SMKN 1 Depok sedang memainkan angklung.
Anak-anak muda yang mengajari suling itu adalah anggota Komunitas Suling Bambu Nusantara. Mereka sehari-harinya adalah mahasiswa, yang memiliki keprihatinan yang sama karena suling bambu kini sudah tergantikan oleh suling plastik. Menurut mereka suling bambu jauh lebih baik karena merupakan produk asli nusantara dan lebih sehat karena jauh dari bahan kimia seperti halnya plastik.
Padukuhan Senuko, Desa Sidoagung, Godean tampak lebih ramai Minggu (19/1) pagi itu. Tujuh komunitas penggiat alat musik bambu berkumpul dan berlatih bersama.
Mereka adalah Bahana Desa (Senuko, Godean), Komunitas Suling Bambu Nusantara, Laras Asri (Purwomartani, Kalasan), Gita Bambu Asri (Donokerto, Turi), Rumpun Gita Musika (Sinduharjo, Ngaglik), DMC (SMKN 1 Depok), Angklung Kadirojo (Kadirojo, Kalasan), dan Komamutu (Murangan, Sleman).
“Ini acara tahunan latihan bersama. Ini yang kedua, tahun lalu di SMKN 1 Depok. Biasanya latihan bersama ini adalah latihan pemanasan sebelum “konser warga” yang akan dilaksanakan sekitar bulan September-Oktober besok. Tahun lalu konser warga ini kita laksanakan di pendopo Ambarukmo,” terang A’yun, salah seorang anggota Komunitas Suling Bambu Nusantara.
Komunitas-komunitas alat musik bambu ini menggelar latihan bersama-sama dengan biaya swadaya dan lokasinya selalu berpindah-pindah.
“Cita-cita kami bukan untuk biar terkenal atau mencariperhatian atau bagaimana. Latihan bersama termasuk mengajari suling bambu ini sebagai alat utuk silaturahmi dan mencari saudara. Merasakan suasana yang guyub”, tambah A’yun.
Kami berharap ke depannya kita tetap bermusik bambu bersama-sama, menambah anggota atau desa untuk lokasi latihan bersama. Syukur-syukur ada pihak yang membantu karena selama ini kita murni swadaya untuk dana dan tempat latihan,” pungkas A’yun.


