Ngaglik – Ada pemandangan agak berbeda di Semie Susu Candiwinangun, Sardonoharjo, Ngaglik pada Senin (28/1/2019). Warung yang biasanya didominasi anak muda tersebut, petang kemarin tiba-tiba riuh oleh keceriaan 30 anak kecil didikan komunitas “Omah Ngaji” Banguntapan, Bantul.
Rosyid, Ketua komunitas Omah Ngaji menyatakan bahwa kedatangan mereka adalah inisiasi dari komunitas Love Masjid dan Omah Ngaji, sekaligus dalam rangka kegiatan outing para santriwan-santriwatinya.
“Hadir di tengah kita 3 anak penyintas bencana gempa Palu yang kehilangan kedua orang tuanya. Namun hari ini kita semua kesini bukan untuk mengharap iba, tapi karena ingin bersilaturahmi dan saling bertukar pengalaman dengan kakak-kakak komunitas Love Masjid,” ujarnya membuka pertemuan.
Bayu Imam Prakasa, Koordinator Lapangan Love Masjid mengucapkan selamat datang kepada semua yang hadir dan merasa sangat bergembira dapat berbagi cerita tentang aktivitas harian masing-masing komunitas. Selepas itu, acara kemudian diisi dengan diskusi dan tanya jawab di antara semua yang hadir.
Di penghujung acara Rosyid menyerahkan celengan kecil bertuliskan “Sedekah Sedino Sewu” kepada pemilik warung sebagai upaya fund rising komunitasnya dan khususnya sebagai pengingat bagi semua yang melihat tentang arti penting uang seribu.
“Uang seribu bagi sebagian orang bisa jadi dianggap sebagai uang receh, uang parkir atau uang toilet. Namun, bagi sebagian kita yang kurang beruntung, seribu bisa sangat berarti bagi kelangsungan hidup,” tandasnya.
Di temui seusai acara, Bayu menambahkan bahwa pertemuan semacam ini sangat penting bagi sesama pegiat komunitas seperti dirinya. Bergerak di bidang apapun, kegiatan berbasis komunitas memerlukan kawan untuk saling mendukung dan saling mengingatkan.
“Sebelum hari ini, Love Masjid juga pernah bertemu dengan beragam komunitas dari seluruh penjuru Yogyakarta, baik dalam kapasitas sebagai tuan rumah maupun sebagai tamu. Karena pada dasarnya berbagi kebaikan adalah tentang kemanusiaan secara umum, bukan eksklusif milik pribadi atau golongan maka sejak awal kami sengaja membuka ruang diskusi, ruang belajar bersama bagi para pihak dari berbagai latar belakang,” ujar pria yang juga akrab disapa mas Bay ini. (DHI)


