Dua Generasi Jathilan di Donolayan

Ngaglik – Kesenian rakyat kuda lumping atau jathilan saat ini masih banyak digemari oleh masyarakat. Keunikan jathilan yang terletak pada tarian, musik pengiring/gamelan, tata rias, kostum, seni pertunjukan dan adanya unsur magis serta ritual tertentu menjadi daya tarik yang mampu menyita perhatian banyak orang.

Saat ini antusiasme penonton terbilang cukup baik di setiap pementasan jathilan. Arif Irnawan, salah seorang pelaku kesenian jathilan mengungkapkan rasa bangganya setiap kali pementasan berlangsung. “Itu berarti kesenian peninggalan nenek moyang ini masih terjaga dan banyak peminatnya,” ungkapnya saat ditemui di Dusun Donolayan, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Kamis (19/12/2019).

Akan tetapi di balik rasa optimisme itu, Arif juga menyadari terselip rasa tanggung jawab moral yang besar untuk terus berusaha melestarikan kesenian asli Jawa tersebut. Sebagai aksi nyata nguri-uri (melestarikan) kesenian jathilan tersebut masyarakat di Padukuhan Donolayan selalu berupaya melestarikan dan mengembangkan seni jatilan melalui organisasi bernama Dono Budoyo yang berdiri sejak tahun 1958 dan telah terdaftar di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman pada 16 Mei 2016.

Pada awal berdirinya Dono Budoyo mengembangkan kesenian jathilan klasik. Tarian, tata rias, konstum pemain, seni pertunjukan, musik pengiring gamelan harus sesuai dengan pakem yang sudah ditentukan dimana kebanyakan dari jathilan klasik menggambarkan sekelompok prajurit yang sedang menunggang kuda. “Hal ini terlihat dari gerakan ritmis dan dinamis melalui kibasan anyaman bambu atau kepang yang dibuat mirip kuda serta menirukan gerakan layaknya prajurit menunggang kuda di tengah peperangan,” terang Arif yang juga alumni dari SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) Yogyakarta tersebut.

Bagi penonton, yang menarik dari setiap pementasan jatilan adalah adanya ritual dan sesaji tertentu menjelang dan selama pertunjukan berlangsung hal ini menimbulkan kesan magis dan mistis. Selain itu adalah keberadaan pawang sebagai sosok yang memiliki peran serta tanggung jawab mengendalikan jalannya pertunjukan hingga menyembuhkan kesurupan (trance) dari para pemainnya.

Lain generasi, lain pula ekspresi keseniannya. Para pemuda Dusun Donolayan sebagai generasi penerus memberikan sentuhan inovasi, kreasi dan memodifikasi kesenian jathilan dengan menampilkan Rampak Buto untuk memeriahkan pementasan. Berbeda dengan jatilan klasik yang masih memegang teguh pakem, Rampak Buto terlihat lebih dinamis, lincah, dan rancak menyesuaikan selera masyarakat masa kini. Anak-anak muda ini selanjutnya mendirikan perkumpulan Dewa Ngesti Gedruk sebagai wadah kreasi anak muda Donolayan dalam mengembangkan bakat berkeseniannya.

“Perkumpulan ini berdiri 13 September 2015, dan masih menjadi satu dengan kelompok kesenian Dono Budoyo, di samping ada juga jathilan putri dan jathilan anak,” kata Indro Wibowo, ketua Perkumpulan Dewa Ngesti Gedruk yang diamini Danang, wakilnya.

Indro mengemukakan, berbeda dengan jathilan klasik Dono Budoyo, jathilan Rampak Buto menggambarkan prajurit Buto atau raksasa yang sedang adu tanding katuranggan. Tarian ini diperankan oleh 8 orang di setiap babaknya mengenakan kostum yang meliputi krembyak (aksesoris) di dada dan pinggang, sampur atau selendang, kerincing di kaki, serta topeng Buto , hal ini merupakan bagian penting karena menunjukkan ciri khas dari pertunjukan rakyat ini.

“Para penari mengenakan aksesoris klinting dipasang pada kakinya sehingga menimbulkan suara gemerincing secara kompak saat kaki menjejak bumi. Maka itu tarian ini dinamakan Gedruk,” terang Indro.

Beberapa Lakon yang sering dimainkan antara lain Ngesti Hing Bongso dan Barata Buto. Jathilan ini diiringi suara musik pengiring atau gamelan terdiri dari kendang, saron, gong, kenong, drum, bonang dan angklung yang memberikan kesan dinamis, dan semarak selama pementasan berlangsung. “Hal ini sesuai jiwa anak muda sehingga diharapkan bisa diterima oleh kalangan generasi milenial saat ini,” harap Indro

Menari rampak Buto juga memerlukan kemampuan dan kekuatan yang mumpuni bagi para pemainnya karena harus mampu menggambarkan sifat raksasa yang kuat, garang , dinamis, keras dan semangat. Arif menambahkan bahwa tarian rampak Buto selain sebagai sarana hiburan juga mengandung pesan tentang kekompakan, persatuan serta semangat kebersamaan yang harus selalu dijaga dalam kehidupan bermasyarakat. (Upik Wahyuni/KIM Ngaglik)

image_pdfimage_print
Bagikan: