Komunitas Relawan Susun Strategi Hadapi Status Merapi

Lembaga kemanusiaan sukarela yang hadir baik Merapi Lowo Rescue (komunitas relawan yang bergerak di bidang kebencanaan), Rajawali (Komunitas Sosial Kebencanaan yang sudah terdaftar di BPBF Sleman), Destana (Desa Tanggap Bencana), Relado (Relawan Donoharjo) maupun komunitas Breaker Donoharjo pasti memiliki kelebihan dan pengalaman masing-masing. Namun menghadapi peristiwa yang mungkin akan terjadi berkaitan dengan status Merapi, tentu membutuhkan persiapan, sumber daya, dan tenaga yang sangat besar serta koordinasi yang baik.

“Karena itu kehadiran teman-teman Lowo Rescue, Rajawali, Destana, Relado, dan Breaker Donoharjo ini merupakan momen yang menjadikan Donoharjo tidak merasa sendiri,” jelas Anang Patri Widyantoro, Carik Donoharjo, Kamis (13/11/2020) dalam Rapat Gabungan Relawan Merapi di Aula Kalurahan Donoharjo. Dalam rapat tersebut disepakati pendirian posko bencana gabungan yang berlokasi di kompleks Kantor Kalurahan Donoharjo.

Yoga, salah satu tim Pendamping Desa dalam kegiatan Bencana Merapi yang juga Ketua FKKRS (Forum Komunikasi Komunitas Relawan Sleman) menjelaskan bahwa jika dilihat dari parameter tahun 2006, perkembangan Merapi saat ini secara instrumen pemantauan semua indikator awas sudah terpenuhi namun ancaman belum nampak. Hal tersebut perlu diwaspadai karena dikhawatirkan energi sudah melebihi saat tahun 2006.

“Intinya, semua kewaspadaan mari kita tingkatkan. Yang pertama, siapkan APD, yang kedua satu komando untuk bergerak dan ketiga bahwa pengungsi memiliki hak untuk hidup lebih lama sehingga harus dapat terpenuhi harkat dan martabat hidupnya,” jelas Yoga lagi.

Sementara itu Bento, Ketua Lowo dan Ketua Presidium FKKRS Sleman menyampaikan bahwa dirinya sangat mendukung kegiatan koordinasi ini dan mengingatkan bahwa dunia kebencanaan bersifat sosial. Rasa sosial, kesetiaan kawanan menjadi utama karena merupakan kegiatan yang tidak berbayar.

Bento juga berharap kekompakan bisa menjadi tanggung jawab bersama.

“Eksistensi teman teman tergantung dari kekompakan kita. Setelah bergabung maka siapapun yang memegang komando harus dilaksanakan,” ucapnya.

Adapun Semut sebagai Bendahara Lowo menjelaskan bahwa persiapan pengungsian berbeda dari sebelumnya karena sekarang juga harus mempertimbangkan kepadatan untuk mengurangi risiko penularan Covid-19.

“Antar relawan harus bisa saling bersinergi dan berkoordinasi sebisa mungkin dalam mengkondisikan pengungsi yang akan kita terima. Sementara itu kita masih kekurangan relawan karena dari sekitar seribu relawan yang terdaftar di BPBD yang mendaftar ulang baru sekitar sepuluh persen,” imbuh Semut.

Untuk evakuasi sendiri ditambahkannya, sudah dimulai di beberapa tempat, didahulukan kelompok rentan dan ternak. Evakuasi pasca erupsi ini akan dilakukan komunitas di lereng Merapi. Tidak semua orang bisa masuk ke wilayah terdampak agar tidak penuh orang, kedua untuk mengurangi trauma, dan ketiga evakuasi secara mandiri. Bantuan dibutuhkan harus dikoordinasikan di bawah satu komando dan hanya orang terlatih yang bisa menjadi relawan evakuasi. (Endarwati/KIM Donoharjo)

image_pdfimage_print
Bagikan: