Restorasi Sosial Berbasis Budaya Jawa

Sleman – Untuk menggali kearifan lokal berbasis budaya Jawa guna mewujudkan kesejahteraan sosial, Dinas Sosial DIY menggelar Sarasehan Restorasi Sosial di Balai Kalurahan Margokaton, Seyegan, Sabtu (4/12/2021).  Kegiatan tersebut dihadiri langsung oleh Wakil Penghageng Parentah Hageng Keraton Yogyakarta Hadiningrat, Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudhahadiningrat.

Pada kesempatan tersebut, KPH Yudhahadiningrat menggarisbawahi mengenai urgensi Kalurahan Mandiri Budaya.

“Ada 4 syarat untuk mendapatkan predikat Desa Mandiri Budaya, yaitu Sudah menjadi desa budaya, desa wisata, desa entrepreneur, dan sudah ditetapkan sebagai desa pemberdayaan perempuan,” jelas pria yang biasa dipanggil Romo Noer ini.

Romo Nur juga mengajak semua audien dalam sarasehan tersebut untuk dapat terus melestarikan budaya dan filosofi Jawa dengan melakukan koreksi terhadap kebiasaan yang kurang tepat, seperti penggunaan jari dalam menunjuk dan penggunaan kata bopo.

“Biasakan menggunakan jempol karena ibu jari simbol rendah hati dan menghargai orang lain, berbeda dengan jari telunjuk yang kerap digunakan secara kasar untuk memerintah.  Penggunaan kata “Bopo” yang sering digunakan untuk menghormati seseorang tidak pas karena makna Bopo adalah pembantu laki-laki, pelayan atau asisten sepadan dengan pembantu perempuan adalah biyung,” terang Romo Noer.

Sadar Narima anggota DPRD DIY dalam kesempatan tersebut mengajak setiap peserta untuk bangga karena Jogja ditetapkan sebagai warisan budaya dunia.

“Jogja adalah city of phylosophy karena DIY merupakan satu-satunya daerah yang membangun daerahnya dengan meletakkan filosofinya terlebih dahulu, yaitu Sangkan Paraning Dumadi. Lung tinulung atau sinergisitas merupakan modal sosial untuk mencukupi kebutuhan bersama adalah kekayaan berharga untuk meraih kemakmuran,” ungkap Sadar

Sementara itu, Irdhon Hidayah, Carik Margokaton mengapresiasi sarasehan restorasi sosial yang diselenggarakan Dinas Sosial DIY ini. Menurutnya kegiatan ini merupakan wadah merekonstruksi pembangunan manusia seutuhnya dengan menggali kearifan lokal, keserasian sosial dan tidak melupakan akar sebagai manusia jawa.

“Usulan Program atau kegiatan harus proaktif dimunculkan dalam musrenbang padukuhan sehingga sebuah kegiatan akan mengakar di masyarakat. Banyak potensi di Margokaton yang bisa dioptimalkan untuk meraih predikat Desa Mandiri Budaya,” ujar Irdhon. (HRH91)

image_pdfimage_print
Bagikan: