Sleman – Tradisi Wiwitan (Wiwit) masih ditemukan di hamparan sawah Bulak Lor Ngablak, Padukuhan Tamanan, Kalurahan Tamanmartani, Kalasan, Minggu (31/7/2022). Tradisi tersebut dilaksanakan oleh Keluarga Sarno seorang petani Padukuhan setrmpat. Uborampe (perlengkapan)-nya pun lengkap, seperti batang tebu, batang dan daun Dadap Seret, kendi isi air, ani-ani, katul, sambel gepeng, kotosan, Ingkung ayam kampung, sambel pecel, bubuk, Sega Golong, Sega Putih, rempeyek, thontho, dan gerih pethek.
Menurut cerita turun temurun dari para leluhur, tradisi yang kini sudah jarang ditemui ini adalah jenis upacara tradisi masyarakat Jawa, terutama kaum tani sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan kesuburan tanah sawah dan karena kesuburannya itu menjadikan tanaman padi bisa tumbuh berkembang menghasilkan padi yang siap dipanen. Selain itu juga ungkapan rasa syukur atas perlindungan Tuhan dari berbagai hama tanaman yang biasa menyerang padi.
Tradisi Wiwit biasanya dilakukan ketika tanaman padi sudah siap untuk dipanen. Oleh karena itu pada saat ritual Wiwit juga dilaksanakan mulai methik padi. Padi yang dipetik lalu diselimuti jarik dan kemudian digendong dibawa pulang dengan istilah mboyong mbok srisadonon dari Padang Kepanasan ke Gedong/bagian rumah yang diperuntukkan menyimpan hasil bumi. Wiwit artinya mulai, karenanya setelah upacara tradisi Wiwit hari berikutnya mulai memanen. Maka tak heran bila tradisi wiwitan juga diartikan permohonan ijin untuk memanen padi.
Sarno sebagai pemangku hajad menuturkan, dulu ketika masih kecil sering ikut Wiwit, tetapi sekarang sudah jarang. “Oleh karena itu sebagai kaum tani ia akan tetap melestarikan. Karena di tradisi Wiwit itu terkandung banyak ajaran para leluhur,” ujarnya.
Sementara itu, Ruri staf pengajar fakultas Filsafat UGM bersama dua orang mahasiswa S2 berkesempatan hadir dan mendokumentasikan upacara wiwitan itu. Menurutnya, dokumentasi itu sebagai bahan kuliah jurusan Filsafat.
Lebih lanjut dikatakan, ia ingin melihat sejauh mana tradisi itu berjalan ditengah kemajuan teknologi. “Wiwit berjalan dalam kemasan asli seperti dahulu atau terdapat perubahan yang dipengaruhi oleh teknologi. Tentu sebarapa jauh teknologi mempengaruhi filosofi rangkaian dan uborampe tradisi juga menjadi bahan telaah,” imbuhnya.
Acara wiwitan-pun menarik bagi kebanyakan orang yang kebetulan lewat di jalan tengah hamparan itu. Tak pelak merekapun ikut wiwitan bersama para petani setempat yang memang ikut acara Wiwit, termasuk Pendamping Kalurahan Budaya Tamanmartani. (Tri Joko S/KIM Kalasan)


