Sleman – Memasuki usianya yang ke-empat Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi menggelar kegiatan peluncuran dan bedah buku Drangsa yang merupakan buku antologi cerita cekak (cerkak) karya 32 anggota Pasbuja Kawi Merapi yang berasal dari wilayah Sleman, Bantul, Kulon Progo, Gunung Kidul, Kota Yogyakarta, Tulungagung, Wonosobo, Magelang, dan Surakarta dengan beragam profesi Dosen, Kepala Sekolah, Karyawan Swasta, Editor Buku, Redaktur Majalah, Guru, Wartawan, Mahasiswa, dan Umum.
Kegiatan peluncuran dan bedah buku Drangsa yang berlangsung di Kedai Sang Ratu, Kalurahan Sidoagung, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman, Senin (5/12/2022) dihadiri oleh Kepala Balai Bahasa Yogyakarta, Dwi Pratiwi, serta Kepala Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman, Anas Mubakkir yang didampingi oleh Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman, Ita Kurniawati.
Prosesi peluncuran Buku Antologi Cerkak Drangsa ditandai dengan pemotongan tumpeng nasi kuning yang dilakukan oleh Ketua Umum Pasbuja Kawi Merapi, Sutopo Sugihartono yang selanjutnya diberikan kepada Anggota Pasbuja Tertua dan Anggota Pasbuja Termuda yang melambangkan sinergitas antara generasi tua dan generasi muda dalam nguri-uri budaya jawa khususnya sastra jawa berupa cerkak, esai, maupun geguritan.
“Kami telah berkomitmen bersama dalam pelestarian dan pengembangan sastra budaya jawa, termasuk berkolaborasi dengan pihak pemerintah Kabupaten Sleman khususnya dengan Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman telah menerbitkan Majalah Memetri yang menggunakan bahasa Jawa secara berkesinambungan, serta Buku Toponimi tentang asal-usul berdirinya Padukuhan di wilayah Kabupaten Sleman,” tutur Sutopo.
Ia juga menambahkan bahwa selain Majalah Memetri dan Buku Toponimi, Pasbuja Kawi Merapi telah menerbitkan Majalah Belik yang merupakan Majalah Bahasa Jawa Digital secara mandiri atau swadayabuku Toponimi yang berkaitan dengan asal-usul berdirinya Padukuhan di wilayah Kabupaten Sleman.
Upaya peningkatan kapasitas sumberdaya anggota Pasbuja Kawi Merapi pun dilakukan dengan menyelenggarakan berbagai pelatihan menulis cerkak, geguritan, esai serta dongeng anak secara mandiri, hingga saat ini berhasil menerbitkan sebuah Buku Antologi Cerkak berjudul Drangsa sebagai wujud sinergitas Pasbuja Kawi Merapi dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.
Usai peluncuran Buku Antologi Cerkak Drangsa, dilakukan diskusi bedah Buku yang pandu oleh Akhiyadi selaku moderator dengan narasumber sekaligus editor, Wiwien Widyawati Rahayu yang kesehariannya sebagai Dosen Sastra Jawa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada bersama Suhindriyo yang menjabat Wakil Ketua Pasbuja Kawi Merapi.
“Drangsa diartikan sebagai angan-angan yang diharapkan terjadi dalam hidup dan kehidupan manusia. Lewat mimpi, manusia merasa memiliki apa yang diinginkan dan dibutuhkan, serta menyadari memiliki beberapa kekurangan. Hasrat untuk memenuhi kekurangan tersebut selalu diupayakan guna mencukupi, melengkapi, hingga menyempurnakan diri sendiri,” pungkas Wiwien mengakhiri diskusinya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)


