Sleman – Dalam rangka mencegah stunting, Kalurahan Margodadi Kapanewon Seyegan mengadakan kegiatan Rembug Stunting pada hari Jum’at (16/6/2023) di Gedung Pertemuan Margoadadi.
Kegiatan ini mengundang peserta dari Kader Kesehatan yang tersebar di 12 Padukuhan, Dukuh dan Babin/Babinkamtibmas sebagai ujung tombak dari program pencegahan stunting, dan menghadirkan Puskesmas Seyegan dan Pendamping Kalurahan sebagai narasumber.
Jalmo Susilodiprojo, Lurah Margodadi dalam sambutannya menyampaikan bahwa Rembug Stunting ini dimaksudkan untuk mengetahui progres penanganan stunting yang telah dilaksanakan.
“Penanganan stunting ini menjadi prioritas bagi pemerintah karena untuk persiapan generasi muda yang dapat diandalkan di masa mendatang,” ujar Jalmo.
Jumarko, ahli Gizi dari Puskesmas Seyegan dalam penjelasannya bahwa untuk Kalurahan Margodadi masih cukup tinggi yaitu ada 20 balita stunting sehingga perlu upaya yang ekstra untuk penanganannya.
“Upaya yang dilakukan selama ini adalah pemberian tablet penambah darah untuk remaja putri, namun masih terjadi permasalahan yaitu mendeteksi remaja putri setelah lulus SLTA sampai menjadi Caten (calon manten). Diusia tersebut data sudah tidak bisa dikontrol,” jelas Jumarko.
Jumarko menambahkan untuk mengatasi hal tersebut perlu pelibatan Karang Taruna untuk mendata remaja putri yang memasuki usia kuliah.
“Caten sendiri juga diintervensi dengan tablet penambah darah. Sedangkan khusus bumil ada 90 tablet tambah darah karena dimasa hamil kebutuhan Fe berubah. Bila HB turun resiko untuk stunting,” terangnya.
Jumarko memberikan tips penanganan stunting yang bisa menjadi pegangan para kader. “Antara lain Ibu Hamil membiasakan makanan dengan gizi yang cukup, minum tablet penambah darah dan vit C bisa dengan air jeruk/juz, 6 bulan pertama bayi lahir asupan ASI eksklusif, imunisasi, sanitasi juga berpotensi untuk terjadinya stunting, 50% bayi stunting terpapar asap rokok,” papar Jumarko.
Parjiyo, pendamping desa sebagai nara sumber ke 2 memberi materi berkaitan dengan pemanfaatan data stunting intuk perencanaan kalurahan. Materi yang disampaikan Parjiyo berkaitan dengan henis jenis data yang ada di kalurahan, mekanisme pemanfaatan data untuk penurunan stunting dan diagnosis kondisi layanan dasar di kalurahan.
Oleh Parjiyo, peserta kader kesehatan dibagi 3 kelompok untuk masing masing mendiskusikan daftar usulan kegiatan intervensi pencegahan stunting. Dalam form yang dibagikan tersebut, sasaran utamanya adalah ibu hamil, balita dengan berbagai rentang usia dan Remaja.
Dalam form tersebut dijelaskan oleh Parjiyo tentang sasaran, paket, indikator, pengertian, temuan, usulan dan usulan sumber dana.
“Harapannya apa yang didiskusikan memberikan masukan kepada kalurahan untuk usulan kegiatan penanganan stunting,” harapnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)


