Sleman – Puncak kegiatan Upacara Adat Saparan Bekakak dimeriahkan dengan kirab budaya Bregada dan Ogoh-Ogoh guna mengiringi dua pasang temanten bekakak dan sesaji yang diberangkatkan dari lapangan Kalurahan Ambarketawang menuju tempat penyembelihan bekakak di Petilasan Gunung Gamping Tlogo dan Petilasan Gunung Kliling bekas Keraton Ambarketawang tempat tinggal Pangeran Mangkubumi pada jaman dulu, Jumat (1/9/2023) sore.
Sebelum peserta kirab memulai langkahnya, dilakukan acara seremonial yang diawali dengan pelaporan Wiramanggala kepada Lurah Ambarketawang, Sumaryanto selaku Ki Demang dilanjutkan pemecahan Kendi Tirto Dono Jati, dan pelepasan sepasang burung merpati putih yang dilakukan oleh Panewu Gamping, Yakti Yudanto disaksikan Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo, dan Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta yang diwakili Kepala Seksi Adat dan Tradisi, Isna Elvianti.
Ribuan warga masyarakat Kapanewon Gamping dan sekitarnya yang melimpah ruah saling berjubel menyaksikan kirab budaya terdiri dari sepasang Pengantin Bekakak bergaya Solo, sepasang Pengantin Bekakak bergaya Yogyakarta, Bregada Ambarketawang, Bregada Mangkubumi, Bregada Songsong Wirosuto, Ogoh-Ogoh Sang Prabu Reksa Sorogenen, Gendruwo, dan Wewe Gombel yang menjadi daya tarik wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik.
Dukuh Gamping Kidul, Bambang Cahyono selaku Lurah Magersari menuturkan bahwa pengantin bekakak pria bergaya Solo mengenakan ikat kepala ahestar dengan hiasan bulu-bulu, selendang merah di leher, kalung sungsun berkain bangun tulak, sabuk berwarna biru, memakai slepe dan keris dengan untaian bunga melati, serta kelat bahu. Sedangkan pengantin bekakak wanita wajahnya dipaes, rambut digelung diberi bunga-bunga dan mentul, bahunya menggunakan kelat bahu, telinga memakai subang, serta mengenakan kemben berwarna biru yang dikalungi selendang merah dan kalung sungsun,
Sedangkan pengantin bekakak pria bergaya Yogyakarta dihiasi menggunakan kuluk berwarna merah sebagai penutup kepala, lehernya berkalung selendang biru dan kalung sungsun, mengenakan ikat pinggang berwarna biru dengan slepe, kain lereng, berkelat bahu dan bersumping, serta kemben warna hijau.
“Hal penting yang tidak boleh dilanggar hingga sekarang adalah bahan dasar pembuatan pengantin bekakak harus disiapkan oleh para wanita, sedangkan yang membuat pengantin bekakak berbahan tepung beras ketan adalah para pria,” tutur Bambang.
Ia menambahkan, proses pembuatan pengantin bekakak dari tepung ketan termasuk pembuatan juruhnya tersebut membutuhkan waktu selama 8 jam. Uniknya, pada saat penumbukan beras ketan menjadi tepung menggunakan lumpang oleh lima orang wanita berpakaian seragam diiringi kesenian gejog lesung atau kothekan yang memiliki irama beragam diantaranya kebo giro, kutut manggung, thong-thongsot, dhengthek, dan lain sebagainya.
“Adapun pembuatan ogoh-ogoh Gendruwo dan Wewe Gombel dimaksudkan sebagai pengawal pasangan pengantin bekakak yang merupakan simbol dari dhanyang atau lelembut yang menunggu Gunung Gamping,” imbuh bambang menutup keterangannya. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)


