Potong Tumpeng Simbol Syukur dan Kebersamaan Dalam Harlah ke-102 NU

Ratusan warga Nahdlatul Ulama (NU) dari berbagai kalangan berkumpul dalam malam tirakat dan renungan Hari Lahir (Harlah) ke-102 NU yang digelar oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kapanewon Gamping. Sebagai puncak acara, dilakukan pemotongan tumpeng simbol rasa syukur atas perjalanan panjang Nahdlatul Ulama dalam mengawal ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia yang berlangsung di Aula Balecatur, Gamping, Kabupaten Sleman, Kamis (30/1/2025).

Dalam sambutannya, Ketua Tanfidziyah MWCNU Gamping, Silahudin Djamil menegaskan bahwa tumpeng bukan sekadar hidangan, tetapi juga sarana meneguhkan nilai-nilai kebersamaan dan keberkahan dalam tradisi Nahdlatul Ulama.

“Pemotongan tumpeng ini menjadi pengingat perjuangan NU telah berusia lebih dari satu abad, tetapi tanggung jawab kita masih panjang demi menjaga dan mengembangkan warisan para ulama,” ujarnya penuh semangat.

Tumpeng kuning berukuran besar diletakkan di tengah aula, dikelilingi para kiai, santri, dan warga Nahdliyin yang larut dalam suasana sakral. KH. Ahmad Mabarun selaku Rois Syuriah MWCNU Gamping didaulat untuk melakukan pemotongan tumpeng pertama, yang kemudian diberikan kepada pengurus harian Nahdlatul Ulama Gamping sebagai bentuk penghormatan kepada generasi penerus untuk berjuang membangun dan menjaga marwah organisasi.

Selain menjadi simbol syukur, pemotongan tumpeng juga menggambarkan filosofi kehidupan NU yang selalu mengedepankan gotong royong dan kebersamaan. Usai dipotong, tumpeng tersebut dibagikan kepada seluruh tamu undangan yang hadir, menciptakan suasana hangat penuh persaudaraan. Lurah Balecatur, Komandan Koramil 17/Gamping, Kepolisian Sektor Gamping, Para Kyai, santri, hingga masyarakat umum menikmati hidangan sederhana ini sambil berbincang santai tentang perjalanan Nahdlatul Ulama dan harapan ke depannya.

Acara ini semakin terasa syahdu dengan lantunan shalawat dan doa bersama yang dipimpin oleh KH. Syukron Amin. Doa dipanjatkan untuk kejayaan Nahdlatul Ulama, keselamatan bangsa, serta kesejahteraan umat Islam di Indonesia. Para hadirin yang duduk bersila di lantai aula dengan khusyuk mengamini setiap doa, mencerminkan rasa kebersamaan yang begitu erat dalam tubuh organisasi ini.

Sementara, Andri Septiyanto selaku Lurah Balecatur mengungkapkan, momentum harlah ke-102 ini juga menjadi ajang refleksi bagi seluruh warga Nahdliyin di Kapanewon Gamping guna menekankan pentingnya menjaga tradisi dan nilai-nilai Nahdlatul Ulama di tengah tantangan zaman.

“Kita harus tetap berpegang teguh pada ajaran para masyayikh, memperkuat persatuan, dan terus mengabdi kepada masyarakat dengan penuh keikhlasan,” pesannya.

Akhirnya, dengan semangat Hubbul Wathan Minal Iman, cinta tanah air merupakan bagian dari iman dan Nahdlatul Ulama akan terus berkontribusi bagi bangsa dan negara. Perjalanan NU di usia 102 tahun bukanlah akhir, melainkan awal dari perjuangan baru. Dengan kebersamaan, keikhlasan, dan semangat perjuangan, Nahdlatul Ulama akan terus tumbuh sebagai pilar Islam moderat yang menjaga kedamaian di Nusantara. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Kapanewon Gamping)

image_pdfimage_print
Bagikan: