Peran Ibu dalam Menghadapi Musim Pancaroba yang Tak Menentu

Sleman – Peralihan musim hujan ke musim kemarau, yang dikenal sebagai musim pancaroba, sering kali membawa cuaca yang tidak menentu. Perubahan suhu yang drastis dan curah hujan yang tidak teratur dapat berdampak pada kesehatan, pola makan, dan kenyamanan hidup. Menghadapi situasi ini, peran ibu dalam keluarga menjadi sangat penting, terutama dalam menjaga kesejahteraan keluarga di tengah perubahan cuaca.

Ibu, sebagai sosok yang mengatur dan menjaga keharmonisan di rumah tangga, memiliki peran strategis untuk mengedukasi dan mempersiapkan keluarga agar tetap sehat dan nyaman selama musim pancaroba. Tak hanya itu, ibu juga berperan penting dalam menjaga keberlangsungan lingkungan rumah tangga yang bersih dan sehat, yang pada gilirannya berdampak positif bagi lingkungan sekitar.

Dalam rangka meningkatkan kesadaran tentang pentingnya peran ibu dalam menghadapi musim pancaroba, kelompok pengajian ibu-ibu Seroja mengadakan pengajian di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Minggu (27/4/2025). Pengajian ini menghadirkan Sutamsi, SP, dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta sebagai narasumber.

Sutamsi mengungkapkan bahwa salah satu cara untuk menghadapi musim pancaroba adalah dengan melakukan rekayasa lingkungan. Ia menekankan pentingnya pembangunan dan perawatan infrastruktur drainase yang baik untuk mengurangi risiko banjir saat musim hujan. Selain itu, penanaman pohon atau penghijauan di sekitar pemukiman dapat membantu mengurangi dampak pemanasan global dan meningkatkan kelembapan udara selama musim kemarau.

Lebih lanjut, Sutamsi menyarankan pengelolaan sumber daya air dengan baik, seperti pembuatan sumur resapan atau penampungan air hujan. Langkah ini dapat menjaga pasokan air tanah dan mengurangi potensi kekeringan pada musim kemarau. Mengoptimalkan penggunaan air hujan untuk kebutuhan rumah tangga juga dinilai sebagai solusi yang dapat mengurangi ketergantungan pada sumber air yang terbatas.

“Teknologi pertanian ramah lingkungan, seperti sistem irigasi tetes, dapat membantu masyarakat menghadapi fluktuasi cuaca dengan menjaga kelembaban tanah,” kata Sutamsi.

Di sisi lain, pengelolaan sampah dan limbah juga menjadi hal yang sangat penting dalam rekayasa lingkungan. Sampah yang menumpuk dapat menyumbat saluran air dan memperparah banjir. Oleh karena itu, sistem pengelolaan sampah yang baik, termasuk pemilahan sampah organik dan anorganik serta pengolahan sampah ramah lingkungan, diharapkan dapat membantu mengurangi dampak buruk perubahan cuaca.

Pada kesempatan yang sama, dr. H. Bambang Edi Susyanto, pengasuh pengajian Seroja, mengingatkan bahwa semangat emansipasi dan pendidikan yang diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini masih relevan hingga saat ini. Ia mengajak perempuan Indonesia untuk berani bermimpi, berjuang, dan berkontribusi dalam kemajuan masyarakat tanpa melupakan nilai-nilai budaya bangsa. Sebagai contoh, dr. Bambang menyampaikan bahwa Kartini mendorong Kyai Sholeh Darat untuk menulis tafsir Al-Qur’an dalam aksara Pegon, agar masyarakat Jawa lebih mudah memahami isi Al-Qur’an.

“Peringatan Hari Kartini seharusnya tidak hanya sebatas mengenakan kebaya sebagai simbol penghormatan, tetapi juga menjadi momentum untuk mengadakan kegiatan yang lebih bermakna,” pesan dr. Bambang di hadapan ibu-ibu jamaah Seroja. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)

image_pdfimage_print
Bagikan: