Pemetaan Masalah Kesehatan Sendangsari: Dari Limbah Rumah Tangga hingga Edukasi Bahaya Rokok

Sendangsari — Dalam upaya memetakan dan menyelesaikan berbagai persoalan kesehatan di masyarakat, Puskesmas Minggir menyelenggarakan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) di Aula Kalurahan Sendangsari, Selasa (29/4/2025). Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari Kepala Puskesmas Minggir dr. Raditya Kusuma Tejamurti, Lurah Sendangsari Afan Nur Hisan, seluruh dukuh, hingga kader kesehatan di wilayah tersebut.

MMD ini merupakan kelanjutan dari proses Survei Mawas Diri (SMD) yang dilakukan sebelumnya, termasuk survei daring terhadap 267 responden dari 12 padukuhan di Sendangsari. Sejumlah persoalan krusial berhasil dipetakan, antara lain pengelolaan sampah, limbah cair rumah tangga, dan kebiasaan merokok di dalam rumah.

“Masih banyak warga yang belum memiliki SPAL dan membuang limbah rumah tangga ke saluran irigasi atau kolam. Sementara itu, kesadaran terhadap bahaya merokok di dalam rumah juga masih rendah, sehingga perlu edukasi menyeluruh kepada perokok aktif dan keluarga,” ujar Dian Puspita Sari dari Bidang Promosi Kesehatan Puskesmas Minggir yang memandu jalannya diskusi.

Lurah Sendangsari, Afan Nur Hisan, menyampaikan bahwa pihak kalurahan telah mengalokasikan anggaran dari Dana Desa tahun ini untuk pengadaan buis beton guna mendukung pembangunan septic tank dan sumur resapan. Ini menjadi langkah konkret untuk mengatasi permasalahan limbah cair yang banyak ditemukan di masyarakat.

Diskusi dalam MMD dipimpin oleh Carik Sendangsari, Supriyanto, yang menghasilkan sejumlah usulan, antara lain pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal, peningkatan edukasi tentang bahaya merokok di dalam rumah, serta kampanye pemilahan dan pengelolaan sampah dari tingkat keluarga.

Menutup kegiatan, dr. Raditya menegaskan bahwa hasil MMD akan disampaikan kepada para pemangku kebijakan terkait untuk ditindaklanjuti. Ia juga mengapresiasi adanya TPST di Sendangsari, namun menyoroti pentingnya akses masyarakat untuk menyetorkan sampah ke tempat tersebut.

“Penting ada contoh padukuhan yang mampu memilah sampah—organik, anorganik, dan residu—sebagai edukasi keluarga. Soal rokok, memang tidak mudah menghilangkan kebiasaan itu, tetapi minimal perokok bisa menyadari di mana ia boleh dan tidak boleh merokok demi menjaga kesehatan bersama,” tegasnya.

Hasil dari MMD ini akan ditindaklanjuti dalam bentuk rekomendasi kebijakan, regulasi, serta dukungan anggaran melalui APBKal guna mendukung upaya penyelesaian masalah kesehatan masyarakat secara berkelanjutan. (Sardiyanto – KIM Sendangsari Minggir)

image_pdfimage_print
Bagikan: